Alasan Game Koei Tecmo Region Lock Karena Nunggu IGRS?!
Pladidus Santoso Beberkan Fakta Menarik soal KOEI TECMO
Beberapa minggu lalu, gamer Indonesia dibuat cukup bingung setelah Koei Tecmo tiba-tiba tidak merilis tiga game baru yang baru saja mereka umumkan, yaitu Wo Long 2, Attack on Titan 3, dan Atelier Karia: The Night Kingdom & the Guide of Memories untuk region Indonesia.
Kejanggalan ini semakin terasa ketika para pemain menemukan bahwa halaman Steam untuk Dynasty Warriors 3 Remastered memang masih bisa diakses dari Indonesia, tetapi opsi pre-order sama sekali tidak tersedia. Jika ditelusuri lebih jauh melalui SteamDB, game tersebut ternyata tetap dijual secara normal di berbagai region lain. Artinya, masalah ini bukan terjadi secara global, melainkan secara spesifik berdampak pada pasar Indonesia.
Situasi tersebut langsung memicu berbagai spekulasi di komunitas. Banyak gamer mempertanyakan apakah Indonesia mulai dianggap kurang menarik bagi publisher Jepang yang satu ini. Ada pula yang mengaitkannya dengan kondisi ekonomi nasional yang belakangan sering menjadi bahan perdebatan publik, mulai dari pelemahan daya beli hingga ketidakpastian investasi. Mengingat Koei Tecmo selama ini termasuk publisher yang cukup konsisten merilis produknya di Indonesia, keputusan ini tentu terasa tidak biasa. Untungnya, misteri tersebut akhirnya mendapatkan jawaban yang jauh lebih jelas.
Melalui artikel eksklusif yang diterbitkan KokangGaming, jurnalis game senior Pladidus Santoso mendapatkan kesempatan untuk berbicara langsung dengan perwakilan Koei Tecmo mengenai alasan di balik absennya beberapa game terbaru mereka di Indonesia.
Menurut penjelasan yang diberikan, kendala utamanya bukan berasal dari faktor ekonomi maupun keputusan bisnis untuk meninggalkan pasar Indonesia. Masalahnya justru berkaitan dengan sistem klasifikasi usia game nasional, yaitu Indonesian Game Rating System atau IGRS.
Pihak Koei Tecmo menjelaskan bahwa mereka saat ini masih menunggu proses klasifikasi dan persetujuan rating usia dari pihak terkait sebelum game-game tersebut dapat ditampilkan dan dipasarkan secara resmi di Indonesia. Sampai saat ini mereka masih belum menerima informasi lanjutan mengenai proses tersebut, sehingga sejumlah game baru mereka belum bisa dirilis untuk region Indonesia.
Dengan kata lain, posisi Koei Tecmo saat ini sebenarnya bukan menolak pasar Indonesia, melainkan sedang menunggu kepastian administratif agar produk mereka dapat dipasarkan sesuai regulasi yang berlaku.
Jika melihat situasinya, keterlambatan ini juga terjadi di tengah masa transisi dan evaluasi sistem IGRS itu sendiri. Beberapa waktu lalu sistem tersebut juga sempat kami kritik melalui postingan X berikut ini.
Mulai dari kasus klasifikasi usia yang dianggap tidak konsisten di Steam, implementasi yang belum merata antar platform, hingga persoalan teknis seperti kebocoran data yang sempat ditemukan pada situs terkait. Berbagai masalah tersebut membuat banyak pihak mempertanyakan kesiapan implementasi sistem tersebut dalam skala besar.
Karena itulah sejumlah media game, pelaku industri, asosiasi game Indonesia, hingga komunitas pemain saat ini masih terus mengawal perkembangan IGRS agar sistem tersebut dapat berjalan lebih matang dan tidak menghambat distribusi game secara tidak perlu.
Di satu sisi, kasus Koei Tecmo ini menunjukkan bahwa regulasi lokal kini mulai memiliki dampak langsung terhadap ketersediaan game internasional di Indonesia. Di sisi lain, kabar baiknya adalah tidak ada indikasi bahwa Koei Tecmo berencana meninggalkan pasar Indonesia. Justru dari penjelasan yang diberikan, peluang game-game tersebut hadir di Indonesia masih terbuka sangat lebar begitu proses klasifikasi usia selesai dilakukan.
Hal ini tentu menjadi kabar melegakan, terutama untuk franchise-franchise yang memiliki basis fans besar di Indonesia. Seri Dynasty Warriors misalnya sudah memiliki komunitas yang sangat kuat sejak era PlayStation 2. Bahkan hingga sekarang, konten-konten terkait Dynasty Warriors masih mampu menarik perhatian besar di media sosial maupun YouTube Indonesia melalui kreator seperti Tara Arts dan berbagai channel gaming lainnya.
Sementara itu, meskipun seri Atelier sering dianggap lebih niche dibanding franchise Koei Tecmo lainnya, komunitas JRPG Indonesia memiliki basis fans yang sangat loyal. Tidak sedikit pemain yang membeli game Atelier pada hari pertama perilisan dan mengikuti perkembangan serinya secara rutin. Karena itulah, jika game-game tersebut benar-benar terkunci permanen untuk region Indonesia, dampaknya akan terasa cukup besar bagi komunitas yang sudah lama mendukung franchise tersebut.
Untuk saat ini, situasinya bisa dibilang masih sebatas penundaan, bukan pembatalan. Jadi para fans Koei Tecmo tampaknya hanya perlu menunggu hingga proses klasifikasi IGRS selesai dan mendapatkan kejelasan lebih lanjut dari pihak terkait.
Bagaimana menurut kalian? Apakah sistem IGRS saat ini sudah berjalan sesuai tujuan awalnya, atau justru masih perlu banyak perbaikan agar tidak menghambat perilisan game di Indonesia?
Follow DirektoriGim agar tetap update dengan berita video game terbaru lainnya.
#koeitecmo #gaming #gamer #direktorigim










Bijie lawak banget kang