Di IGDX 2026. DirektoriGim meliputi panel tentang Bertahan Hidup Mengembangkan Game Survival Horor, sambil menghadapi Horor aslinya di dunia nyata. Dan topik panel ini juga menyangkut tentang pengembangan dari AGNI : Village of Calamity.
Pada sesi ini di isi oleh Rivaldo Santosa selaku Journalist & Co-Founder. The Lazy Media (TLM) sebagai moderator yang akan memandu jalannya diskusi panel. Ardhan Fadhlurrahman selaku COO & Lead Producer, Separuh Interactive. Studio yang mengembangkan AGNI. Dan Leo Zullo selaku Managing Director & Co-Founder, Wired Production. Publisher yang akan membantu perilisan dan pengembangan AGNI.

Pada sesi panel ini, kami menangkap 3 perspektif mengenai aspek horor yang disajikan untuk dapat mengembangkan sebuah game horor tersendiri.
Dan disini, Rivaldo mempertanyakan 3 hal apa saja yang diperlukan sebagai developer untuk mengembangkan game horor.
Apa yang membuat game horror bisa mempresentasikan kulturnya?
Bagaimana memperlihatkan kualitas produk selama produksi berjalan?
Apa solusi terbaik untuk dapat bertahan hidup selama produksi tetap berjalan?
Leo Zullo :
“Buatlah Se-Otentik Mungkin”
Menurut Leo, Game Horor harus dibuat Se-Otentik agar dapat mempresentasikan horor itu tersendiri. terlebihnya lagi Developer juga perlu Update progress pengembangan mereka secukupnya. karena pada dasarnya, pemain lebih suka mendengar cerita dari sang developer yang ingin disampaikan lewat karya-karya game mereka.
Intinya : Otentik dalam Horor, terbuka soal progress pengembangan
Ardhan Fadhlurrahman :
“Tunjukan Produk Terbaik”
Bagi Ardhan, prioritasnya adalah memperlihatkan produk terbaiknya. Salah satunya ialah lewat AGNI : Village of Calamity, di beberapa elemen yang tersaji di permainannya.
Hijab : Karakter utamanya memakai hijab, dipresntasikan diluar aspek religius sebagai gambaran kultur yang umum di negara indonesia
Pocong : Sama halnya dengan urban legend dan hantu indonesia seperti Pocong, dipresentasikan sebagai bumbu horornya.
“Enggak Harus Kejar Tren & Viral”
Bagi Ardhan dan Zullo, Game horor tidak harus mengejar tren atau viral. Buatlah game horor yang pada dasarnya sudah dicintai oleh para developernya sendiri.



