Darwin's Paradox Review Indonesia | DirektoriGim
Game Stealth Gurita dari Konami?
Di tengah gempuran game-game AAA yang belakangan ini terus berdatangan dan mendominasi timeline, terkadang kita butuh game yang lebih ringan untuk jadi selingan. Atau, dengan kata lain, game dengan skala yang relatif lebih kecil, mechanics yang lebih sederhana, dan gameplay yang terasa lebih kasual. Nah, tepat di momen seperti ini, Darwin’s Paradox! hadir sebagai alternatif yang terasa pas.
Sebagai game puzzle platformer dari developer Prancis ZDT Studio, sekaligus proyek perdana mereka bersama Konami sebagai publisher, Darwin’s Paradox! tampil dengan pendekatan yang lebih ringan dan daya tarik yang berbeda di antara deretan game besar lainnya yang serba megah.
Dan ya, kamu enggak salah lihat. Judulnya memang pakai tanda seru.
Di game ini, kamu akan bermain sebagai seekor gurita biru kecil bernama Darwin yang berjuang mencari jalan pulang setelah ditangkap oleh sebuah perusahaan produksi makanan laut bernama UFOOD Inc, yang memiliki asal-usul dan agenda misterius. Aksi si Darwin disajikan dalam balutan visual khas animasi 3D yang cukup mencolok. Uniknya, kamu enggak cuma berenang bebas di dalam air, tapi juga bisa menjelajahi area daratan, yang langsung membuka potensi gameplay yang lebih variatif.
Jujur saja, di awal main, elemen yang langsung bikin kepincut adalah art style-nya dan humornya yang ringan tapi tetap kena. Walaupun Darwin enggak bisa bicara dan hampir tidak ada dialog sama sekali, ekspresi yang ditampilkan tetap membuatnya terasa hidup. Hal ini secara tidak langsung bikin kita lebih tertarik untuk mengikuti petualangannya sampai selesai.
Namun, di balik presentasi yang terlihat simpel dan fun ini, muncul pertanyaan yang cukup penting: apakah Darwin’s Paradox! punya gameplay yang cukup kuat untuk bertahan lebih dari sekadar kesan pertama?
Game ini dibuka dengan sebuah film pendek bergaya iklan semi-edukatif yang memperkenalkan kita pada seluk-beluk biologis gurita, yang dibawakan oleh perusahaan pengolah makanan laut bernama UFOOD Inc. Di sini, kamu diajak memahami berbagai karakteristik unik gurita, mulai dari tingkat kecerdasannya yang tinggi hingga kemampuan berkamuflasenya yang membuat mereka bisa bersembunyi dari predator.
Penyampaian informasinya dikemas dengan gaya yang ringan dan humoris. Di saat yang sama, naratornya terasa terlalu menekankan bahwa mereka adalah perusahaan manusia dan bukan “alien misterius” dengan niat jahat. Hmm, terasa ada yang disembunyikan di sini. Setelah segmen ini selesai, kamu langsung masuk ke gameplay untuk mempraktikkan semua hal yang barusan dijelaskan.
Di level prolog yang sekaligus berfungsi sebagai tutorial, kamu mulai mengendalikan Darwin dan mempelajari berbagai ability dasarnya. Kamu bisa berenang melawan arus, memegang dan memindahkan objek, merayap di dinding bahkan langit-langit, berkamuflase untuk menghindari deteksi musuh, hingga menyemprotkan tinta untuk mengganggu penglihatan mereka. Semua mechanic ini diperkenalkan secara bertahap, dan pace-nya terasa natural serta konsisten sepanjang permainan.
Setelah itu, cerita utamanya mulai bergerak. Darwin dan temannya tiba-tiba diculik oleh piring terbang misterius. Meski berhasil melarikan diri, dia terdampar di tempat pembuangan limbah yang asing dan berbahaya. Dari sini, petualangannya dimulai, mencari jalan pulang sambil menghadapi berbagai rintangan.
Kalau dipikir-pikir, premisnya sedikit mengingatkan pada Finding Nemo. Sama-sama makhluk laut yang berusaha pulang, tapi kali ini protagonisnya bukan ikan badut, dan ada elemen alien yang ikut bermain.
Setelah melewati prolog, kamu akan menjelajahi berbagai lokasi. Mulai dari tumpukan limbah yang menggunung, saluran bawah tanah yang gelap, pabrik industri dengan alat mekanis, hingga area kantor dan pengemasan yang diisi oleh pegawai robot, yang semakin menegaskan bahwa UFOOD Inc bukan perusahaan biasa.
Objective di setiap level cukup sederhana. Kamu bergerak dari titik A ke titik B ala side scroller, sambil menghadapi tantangan platforming, stealth, dan puzzle berbasis manipulasi objek. Meskipun menggunakan grafis 3D, pergerakannya tetap terasa seperti game 2D, sehingga fokusnya benar-benar ada pada desain level dan puzzle.
Dari sisi visual, environment design-nya terasa hidup, bahkan memberi kesan seperti memainkan film animasi. Gaya visualnya mengingatkan pada produksi DreamWorks atau Pixar, dengan warna yang vibrant dan enak dipandang, apalagi di layar besar. Variasi lokasinya juga cukup beragam. Hanya saja, di area dengan pencahayaan minim, bayangannya terasa cukup pekat. Di beberapa segmen, kamera juga kadang terlalu jauh, sehingga agak sulit membaca posisi karakter secara presisi.
Untuk sistem puzzle, Darwin’s Paradox! mengambil pendekatan yang cukup hands-off. Game ini tidak banyak memberikan petunjuk eksplisit, tanpa penanda visual mencolok seperti warna tertentu. Kamu didorong untuk bereksperimen sendiri mencari solusi. Tidak ada map atau minimap, dan hint baru akan muncul secara opsional jika kamu gagal beberapa kali. Pendekatan ini menjaga flow eksplorasi tetap terasa alami.
Soal eksplorasi, kamu juga bisa menemukan item tersembunyi di setiap level. Item ini bersifat opsional dan lebih berfungsi sebagai tambahan lore. Salah satu contohnya adalah artikel koran tentang pembukaan pabrik UFOOD Inc tanpa adanya lapangan kerja baru, yang memberi kesan ada sesuatu yang tidak beres.
Variasi puzzle yang ditawarkan juga cukup beragam. Misalnya, kamu bisa melumuri tubuh Darwin dengan cairan hijau yang membuatnya bersinar di area gelap, tapi efek ini juga membuatnya tidak bisa menempel di permukaan. Mekanik seperti ini memberikan konsekuensi yang jelas. Contoh lain, tinta yang digunakan untuk mengganggu musuh di air juga bisa dimanfaatkan untuk merusak perangkat listrik di area daratan atau menciptakan distraksi.
Desain levelnya juga menjaga variasi dengan baik. Ada segmen yang mengharuskanmu bersembunyi dari burung camar sambil tetap melakukan platforming, area bawah air dengan pipa panas, hingga conveyor belt sempit dengan berbagai bahaya. Ritmenya terasa dinamis, kadang santai dan observatif, kadang juga cukup intens dan menuntut refleks.
Untungnya, sistem checkpoint di game ini cukup bersahabat. Jarak antar checkpoint terasa pas, jadi saat gagal, kamu tidak perlu mengulang terlalu jauh. Ini membantu menjaga ritme permainan tetap nyaman.
Dan satu hal yang patut diapresiasi, selama aku memainkan game ini, performanya terasa sangat stabil. Tidak ada framerate drop yang mengganggu atau bug signifikan. Secara keseluruhan, pengalaman bermainnya terasa mulus dari awal sampai akhir.
Untuk kekurangannya, selain visual di area gelap dan kamera tadi, ada beberapa hal lain. Dari sisi audio, aku pribadi merasa musiknya kurang meninggalkan kesan yang kuat. Secara fungsi tetap mendukung suasana, tapi tidak banyak track yang benar-benar terasa memorable. Kecuali track Back to the Sea.
Dari segi replayability, game ini juga cukup terbatas. Karena strukturnya linear, tidak banyak alasan untuk mengulang dari awal, kecuali untuk tantangan pribadi seperti menyelesaikan game tanpa mati. Durasi permainannya juga tergolong singkat, sekitar kurang dari 6 jam untuk satu kali tamat.
Pendekatan puzzle yang minim petunjuk memang terasa segar, tapi di beberapa situasi bisa berujung trial and error. Tanpa rambu visual yang jelas, ada momen di mana kamu bisa kebingungan atau sempat stuck. Ditambah lagi, Darwin tidak punya health meter, jadi satu kesalahan kecil bisa langsung berujung gagal.
Secara keseluruhan, Darwin’s Paradox! adalah game yang fun. Walaupun durasinya singkat, visualnya yang charming dan variasi gameplay-nya membuat game ini tetap nyaman dimainkan dari awal sampai selesai. Cocok untuk jadi game selingan.
Kalau kamu penasaran, Darwin’s Paradox! juga punya demo di Steam dan platform lainnya yang bisa dicoba. Bahkan ada bonus berupa skin yang terinspirasi dari kostum Solid Snake dari franchise Metal Gear, yang nantinya juga bisa digunakan di versi penuhnya.
Untuk verdict, aku kasih rating 7/10. Sebuah game yang sederhana, dieksekusi dengan rapi, minim masalah teknis, dan cocok untuk berbagai kalangan.
Akhir kata, terima kasih banyak sudah membaca review ini. Jangan lupa untuk like dan subscribe ke channel DirektoriGim agar tetap up to date dengan konten gaming lainnya dari kami. Terima kasih juga kepada Konami yang sudah memberikan review code game ini untuk kami ulas.
#gaming #darwinsparadox #konami









