Setelah dua tahun menunggu dan berspekulasi soal apakah Dragon’s Dogma 2 bakal mendapatkan DLC, akhirnya CAPCOM mengumumkan sekaligus merilis Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen, sebuah expansion dari game action RPG mereka yang cukup esoteric, yaitu Dragon’s Dogma 2.
Sebagai game, Dragon’s Dogma 2 bisa dibilang cukup divisive. Sebagian pemain suka banget sama game ini, tetapi ada juga yang merasa kalau berbagai mekaniknya malah ngerepotin. Maksudnya gimana tuh, Bang? Kok main game malah ngerepotin?
Jadi, Dragon’s Dogma 2 sangat menekankan aspek eksplorasi. Kalian bakal menjelajahi dunia medieval fantasy layaknya sedang menjalani sesi Dungeons & Dragons. Bedanya, kalian nggak perlu membayangkan semua kejadian menggunakan imajinasi sendiri, karena di game ini kalian benar-benar bisa merasakan pengalaman berada di dalam dunia tersebut.
NPC bisa memberikan quest ketika kalian berada dalam jarak tertentu. Encounter dengan monster dan bandit juga bisa terjadi secara organik ketika kalian menjelajahi berbagai region.
Combat-nya pun memberikan banyak ruang untuk bereksperimen melalui berbagai vocation, masing-masing dengan spesialisasi dan pendekatan bertarung yang berbeda. Jadinya, kalian nggak harus bergantung pada satu vocation untuk menghadapi semua situasi yang dilemparkan ke kalian. Game ini sangat menekankan player expression dan player experimentation dalam setiap sesi battle-nya.
Dragon’s Dogma 2 juga punya pendekatan yang cukup unik dalam membangun imersi. Kalau kalian menjelajahi tempat gelap, kalian perlu menggunakan lantern dan mengisinya dengan oil. Kalian bisa camping untuk makan dan memulihkan kondisi, atau menaiki wagon untuk melakukan fast travel ke kota maupun checkpoint tertentu. Most of the time, kalian bakal jalan dari satu titik ke titik lainnya karena opsi fast travel yang terbatas.
Sayangnya, Dragon’s Dogma 2 bisa dibilang divisive karena pendekatannya terhadap imersi dan gamifikasi gameplay-nya sendiri. Misalnya, saking imersifnya game ini, pada perilisan original, kalian disuruh mengeksplorasi dunia dari poin A ke poin B tanpa fast travel. Jadinya, kalian bakal kebanyakan jalan kaki, dan hal ini kayak nge-gatekeep beberapa pemain baru yang pengin nyobain Dragon’s Dogma 2.
Sementara dari aspek gamifikasinya sendiri, seiring kita bermain, encounter dengan monster yang ditemui di jalan bisa terasa formulaik. Rasanya seperti CAPCOM sengaja menempatkan monster tertentu di region A, B, dan C supaya kalian bisa mendapatkan EXP karakter atau menaikkan level skill vocation.
Tapi gw nggak peduli sama low point itu. Karena di balik imersi yang ditawarkan, Dragon’s Dogma 2 tetaplah sebuah video game. Bahkan, game ini juga merupakan meta-commentary dari awal sampai akhir.
Kata Hideaki Itsuno aja di wawancaranya bersama Eurogamer, nothing in this game is unintentional.
Nah, sekarang pertanyaannya, bagaimana Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen bisa memperkaya flavour dari Dragon’s Dogma 2? Apakah expansion ini berhasil menambahkan rasa umami bagi para pemain, baik player baru maupun player lama, atau justru merusak cita rasa yang sudah ditawarkan versi vanilla-nya?
Perubahan di Dragon’s Dogma 2 Sebelum Dark Arisen
Sebelum ngomongin DLC-nya, ada beberapa perubahan di Dragon’s Dogma 2 yang perlu dibahas terlebih dahulu. Pertama, performa game ini di PC sekarang lebih bagus. Kedua, mirip seperti Dragon’s Dogma: Dark Arisen pertama, game ini akhirnya membolehkan kalian menggunakan enam skill slot sekaligus. Ini cocok banget buat Warfarer karena kalian punya lebih banyak ruang untuk menggunakan berbagai kemampuan dalam satu build.
Ketiga, CAPCOM akhirnya ngasih pemain Eternal Ferrystone, yang memungkinkan kalian melakukan fast travel tanpa batas tanpa harus menghabiskan Ferrystone biasa. Jadi, basically, Ferrystone versi original udah nggak terlalu berguna karena kalian sekarang punya Eternal Ferrystone.
Buat yang belum membeli DLC Dark Arisen, CAPCOM juga memberikan akses ke Hard Mode secara gratis tanpa perlu membeli DLC-nya. Jadi, replayability value game ini makin gede lagi.
Tapi mari kita ngomongin soal DLC-nya sekarang. Bisa dibilang gw sangat-sangat merekomendasikan Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen. Pertama, DLC ini memberikan perspektif cerita yang somehow lebih bagus daripada base game-nya. Kedua, DLC ini menghadirkan gameplay loop yang surprisingly berbeda dari base game-nya.
Norgan dan Gameplay Loop yang Bikin Nagih
Untuk mengakses DLC ini, kalian tinggal ngomong ke Brant di Vernworth. Setelah cutscene, kalian bakal diarahkan ke tempat tertentu dengan menaiki Griffin untuk menuju Norgan.
Awalnya, gw pede banget buat speedrun DLC ini karena menggunakan karakter New Game+ level 50-an. Tapi ternyata gw kaget banget. Kok senjata gw nggak mempan, ya? Terus Pawn gw mati semua. Ternyata oh ternyata, DLC ini punya difficulty tersendiri yang terpisah dari base game-nya. Musuh-musuh yang ada di Norgan jauh lebih kuat dibandingkan musuh yang kalian temui di base game.
Meskipun begitu, CAPCOM memberikan gameplay loop baru untuk memperkuat karakter kita di Norgan. Sistemnya mirip game-game looter RPG, di mana kita memburu musuh dan mengumpulkan loot dari hasil perburuan tersebut. Dari drop yang didapat, bakal ada berbagai spoil secara acak. Nah, spoil-spoil ini bisa kalian appraise ke seorang nenek tua untuk diubah menjadi consumable ataupun senjata yang lebih kuat.
Jujur aja, gameplay loop ini nagih banget. Di awal-awal gw main DLC-nya, gw selalu berusaha menyerang musuh berturut-turut karena rasanya rewarding banget. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil mengalahkan musuh dan mendapatkan spoil yang bisa memperkuat karakter.
Sedangkan kalau di base game, kadang musuh cuma drop item-item sampah. Apalagi kalau level karakter udah tinggi, jadinya gw sering melewatkan musuh yang ditemui di jalan. Buat apa juga capek-capek melawan monster kalau hadiah yang didapat nggak sepadan?
CAPCOM memperbaiki hal ini melalui sistem spoil yang lebih beragam. Seiring kalian berprogres, kalian juga bakal mendapatkan spoil yang lebih kuat atau memiliki rarity lebih tinggi. Equipment yang didapatkan dari DLC ini pun bisa kalian bawa ke base game. Ngomongin soal equipment, kalian sekarang bisa makai semua equipment tanpa “nge-equip” equipment tersebut dengan fitur transmog, yang bisa kalian akses di paruh akhir dlcnya.
Untuk level yang direkomendasikan, menurut pengalaman gw, kalian bisa mulai mengakses DLC ini di sekitar level 40–50-an. Jadi, buat pemain baru, kayaknya kalian juga nggak bisa asal brute-force area ini dengan karakter berlevel rendah. Mungkin bisa kalau pakai Archer, ya, tapi gw sendiri belum mencoba memainkan DLC ini menggunakan save baru.
Area yang Lebih Arcade, tetapi Tetap Punya Greget
Area DLC-nya sendiri entah kenapa terasa lebih arcade. Di beberapa lokasi base tertentu, ada Portcrystal yang tersebar di area sehingga kalian bisa zip zap teleport ke sana kemari dengan gampang.
Mungkin pendekatan ini sengaja diterapkan untuk menekankan aspek looter RPG yang ditawarkan DLC-nya. Meskipun begitu, hal ini juga cukup divisive karena terasa menghilangkan sebagian charm dari Dragon’s Dogma itu sendiri.
Dari pengalaman gw memainkan base game Dragon’s Dogma 2, bahkan game pertamanya, seri ini memang merupakan game yang ribet dan membutuhkan banyak usaha untuk dimainkan. Kalian harus benar-benar memikirkan perjalanan, mempersiapkan kebutuhan, dan menghadapi berbagai hal yang bisa terjadi di sepanjang jalan.
Jadi, kemudahan yang ditawarkan di Norgan ini kayaknya merupakan akal-akalan CAPCOM supaya newcomer bisa lebih menikmati gamenya. Tenang aja, nantinya kalian juga bakal menemukan area berkabut tempat Ferrystone nggak bisa digunakan. Buat yang baru memainkan game ini, kalian bakal tetap merasakan aspek greget sekaligus nyebelinnya versi awal Dragon’s Dogma 2.
Dan sekadar mengingatkan aja, meskipun kita mendapatkan Eternal Ferrystone dari awal, semua kemudahan ini sifatnya opsional.
Lost Rites Dungeon dan Konten Tambahan di Base Game
Selain Norgan, di base game kalian juga bakal menemukan dungeon baru bernama Lost Rites Dungeon. Dungeon ini menawarkan berbagai loot keren, termasuk armor baru.
Salah satu hadiahnya berfungsi untuk mengaktifkan obelisk di Norgan, yang kemudian bisa memberikan skill vocation baru serta meningkatkan stat karakter dan Pawn kalian.
Namun, di luar Norgan dan Lost Rites Dungeon, DLC Dark Arisen nggak memberikan banyak konten tambahan di area base game. Menurut gw, hal ini cukup fair karena konten yang ditawarkan dalam expansion ini sendiri lumayan panjang.
Dulu, gw menamatkan Dragon’s Dogma 2 dengan waktu bermain sekitar 60 jam. Setelah memainkan DLC ini, waktu bermain gw bertambah sekitar 50 jam, sehingga totalnya mencapai kurang lebih 100 jam in-game playtime.
Bisa dibilang, tambahan waktu bermain yang ditawarkan DLC ini cukup besar. Buat kalian yang pengin menghabiskan lebih banyak waktu di dunia Dragon’s Dogma 2, Dark Arisen punya konten yang cukup untuk membuat kalian betah puluhan jam lagi.
Cerita yang Somehow Lebih Bagus dari Base Game
Soal cerita, gw sendiri nggak menyangka bakal suka banget dengan apa yang ditawarkan DLC ini. Dark Arisen menceritakan keberadaan Arisen kedua, yang seharusnya mustahil terjadi di dunia Dragon’s Dogma. Lalu ada naga yang kagak bisa mati, ditambah karakter baru bernama Ser Eir yang cakep banget dan ditulis dengan bagus.
Gw sendiri cukup bersimpati terhadap Ser Eir ketika mengetahui siapa dia sebenarnya. Ada sesuatu dari karakter ini yang membuat misteri di balik dirinya terasa lebih menarik seiring cerita berjalan.
Misteri soal Arisen, penelitian tentang Norgan, ditambah dinamika penduduk Norgan, semuanya dirajut menjadi cerita yang terasa penuh passion. Semua ini dipadukan dengan gameplay loop yang nagih banget, sehingga gw merasa DLC ini punya daya tarik yang lebih besar daripada sekadar menambahkan area baru.
Yang Bikin Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen Kurang Nendang
Mungkin masalah gw terhadap game ini adalah Pawn-nya yang entah kenapa masih gobl*k banget. Gw pernah memainkan game ini sampai jam tiga pagi sambil misuh-misuh karena beberapa Pawn dengan vocation Magic malah menerjang musuh jarak dekat. Kan tol*l gitu ye.
Masalah kedua adalah aspek endgame-nya. Ketika kalian sudah menghabiskan ratusan jam dan mendapatkan berbagai reward bagus, rasanya nggak ada alasan gede buat terus memainkan game ini selain mencoba challenge run, mengejar platinum, ataupun melakukan speedrun.
Meskipun Dark Arisen menghadirkan monster baru, sayangnya hal ini nggak terlalu memberikan alasan bagi gamer biasa untuk mengulang permainan. Berbeda dengan Monster Hunter, yang menambahkan satu monster saja sudah bisa membawa perubahan masif terhadap pengalaman bermainnya, tambahan monster di Dragon’s Dogma 2 nggak memberikan dampak sebesar itu.
Masalahnya ada pada sistem build dan min-maxing stat yang nggak terlalu kompleks. Jadi, setelah kalian mendapatkan equipment yang bagus dan memperkuat karakter sesuai keinginan, nggak banyak hal yang bisa mendorong kalian untuk terus bermain.
Gw merasa Dragon’s Dogma sebagai sebuah IP merupakan seri yang cukup ambisius, tetapi masih kurang tendangan untuk menjadi lebih ambisius lagi dalam skala action RPG. Fondasinya sudah menarik, tetapi masih ada potensi yang belum sepenuhnya dimanfaatkan, terutama dalam memberikan alasan bagi pemain untuk terus kembali setelah menyelesaikan konten yang tersedia.
Meskipun begitu, dengan konten yang bisa mencapai ratusan jam, gw tetap merasa Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen sangat layak direkomendasikan.
Kesimpulan
Gw memberikan Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen nilai 8,5/10.
Dragon’s Dogma 2: Dark Arisen berhasil memberikan gameplay loop baru yang surprisingly rewarding dan nagih banget seiring kalian menyelesaikan DLC-nya. Sistem looting di Norgan memberikan alasan untuk terus melawan musuh, sementara cerita dan karakter barunya berhasil memberikan perspektif yang menarik terhadap dunia Dragon’s Dogma 2.
Sayangnya, game ini masih kurang memberikan rasa yang nendang ketika kalian memainkannya berkali-kali. Setelah mendapatkan berbagai reward dan menyelesaikan kontennya, nggak banyak alasan untuk kembali bermain selain mencari tantangan baru.
Meskipun begitu, gw tetap sangat merekomendasikan DLC ini buat kalian yang sudah menyukai Dragon’s Dogma 2. Konten tambahannya cukup panjang, sistem permainannya nagih, dan ceritanya juga berhasil memberikan pengalaman yang berbeda dari base game.
Buat kalian yang belum pernah memainkan Dragon’s Dogma 2, apakah kalian tertarik buat mencobanya? Atau mungkin kalian justru pengin kembali memainkan game ini di Nintendo Switch 2? Coba komen di bawah!
Untuk mendukung jurnalisme independen DirektoriGim, kalian juga bisa bergabung ke YouTube Membership kami mulai dari Rp10.000 saja. Dukungan kalian bakal membantu kami membeli seporsi nasi goreng. Eh, sekarang Rp12.000, ya? Naik tuh!

















