Mungkin kalau kita membahas Fumito Ueda, sebagian diantara kita mengenal nya dengan beberapa judul yang fenomenal seperti ICO, Shadow of Colossus, hingga The Last Guardian.
Kita mungkin sempat bertanya-tanya dengan bagaimana Fumito Ueda bisa menghadirkan game seperti itu.
Dilansir dari 4Gamer yang di kutip dan diterjemahkan oleh Genki_JPN, Fumito Ueda membahas cara menemukan ide gamenya dalam sesi diskusi bersama Eric Chahi di acara The Tenth Mosaic.
Ueda mengatakan dirinya tidak memiliki metode tetap saat memulai proyek baru. Sebuah game bisa berawal dari mekanik, teknologi, setting, atau bahkan satu gambar yang muncul di pikirannya.
Sebagai contoh, Shadow of the Colossus dimulai dari gagasan tentang karakter yang bisa berpegangan dan memanjat tubuh raksasa. Sementara itu, ide awal The Last Guardian berasal dari teknologi AI untuk mengendalikan karakter yang sudah dikembangkan timnya sampai saat itu.
Dengan begitu, Ueda tidak selalu memulai game dari cerita atau dunia yang ingin dibangun. Titik awalnya memang dapat berubah tergantung pada hal yang menurutnya memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh.
Namun, ada satu hal yang tetap menjadi pertimbangannya.
Sebelum memikirkan respons orang lain, Ueda terlebih dahulu menilai apakah dirinya sendiri tertarik memainkan game tersebut.
“Customer pertama saya adalah diri saya sendiri.” ujar Fumito Ueda.
Ueda menjelaskan bahwa ia ingin melihat idenya dari sudut pandang player, bukan hanya sebagai creator.
Jika dirinya sendiri tidak merasa penasaran atau tertarik untuk mencoba game tersebut, ide itu mungkin belum cukup kuat untuk dikembangkan.
Pendekatan tersebut juga terlihat dari cara Ueda memikirkan game-game sebelumnya.
Shadow of the Colossus muncul dari sensasi memanjat makhluk raksasa, sedangkan The Last Guardian berkembang dari interaksi dengan karakter yang dikendalikan AI.
Di dalam diskusi yang sama, Eric Chahi juga mengatakan bahwa seorang developer perlu melupakan sejenak posisinya sebagai perancang game.
Ia kemudian bisa menilai karya tersebut sebagai seorang player yang merasakannya langsung apa yang sudah dibuat. Pembahasan tersebut sejalan dengan pandangan Ueda mengenai desain game.
Ia ingin menciptakan dunia yang terasa benar-benar ada, bukan sekadar ruang untuk menjalankan aturan atau sistem game.
Dari sini, kita sekarang tahu kalau bagi Ueda, tidak ada satu formula yang wajib digunakan untuk menghasilkan game. Yang lebih penting adalah menemukan gagasan yang bisa membuatnya sendiri ingin masuk ke dalam dunia tersebut dan melihat apa yang terjadi di dalamnya.
Bagaimana menurut kalian? Apakah seorang developer memang harus menjadi player pertama dari game yang dibuatnya? Jangan lupa follow DirektoriGim agar tetap update dengan berita videogame lainnya!




