Netflix kembali merombak bisnis gaming mereka dengan menutup dua studio internal, yaitu Night School sang kreator Oxenfree dan Moonloot yang belum sempat merilis proyek apapun.
Netflix juga memangkas kapasitas staf pada divisi gaming internal, walau detail jumlah karyawan yang terdampak masih dirahasiakan.
Dilansir dari Game File, keputusan drastis ini menjadi bagian dari pergeseran strategi Netflix setelah lima tahun berjuang menancapkan kuku di industri game.
Selama periode tersebut, Netflix tidak cuma menggarap game lewat studio internal, tapi juga sibuk mengakuisisi developer lain untuk memperluas katalog.
Moonloot sendiri adalah studio yang berdiri pada September 2022 dan bermarkas besar di Helsinki, Finlandia. Studio ini dipimpin langsung oleh Marko Lastikka, sosok veteran dengan rekam jejak mentereng di Zynga dan Electronic Arts.
Pembentukan Moonloot awalnya menjadi ambisi Netflix untuk membangun pangkalan internal yang sanggup memproduksi game secara mandiri.
Sayangnya, proyek andalan tim ini belum sempat dipamerkan ke publik sebelum Netflix akhirnya menyuntik mati operasional studio tersebut.
Artinya, Moonloot terpaksa mengubur dalam-dalam mimpi mereka tanpa pernah mendapat kesempatan untuk memamerkan karya perdananya kepada kalian.
Langkah berani ini membuktikan bahwa Netflix mulai mengevaluasi ulang strategi mereka dalam membangun pilar studio gaming dari nol.
Studio yang baru seumur jagung ini pada akhirnya gagal mendapat lampu hijau untuk membawa proyek mereka ke tahap rilis.
Beda nasib dengan Moonloot, Night School punya rekam jejak historis yang jauh lebih panjang sebelum dipinang oleh Netflix. Studio ini sudah lama dikenal luas berkat karya game indie mereka yang punya kekuatan narasi super solid.
Night School merilis Oxenfree pada 2016 yang lalu disusul oleh Afterparty pada 2019. Netflix kemudian mengakuisisi studio berbakat ini pada 2021 sebagai salah satu manuver investasi awal mereka untuk menggebrak industri game.
Selama bernaung di bawah bendera Netflix, Night School tetap produktif mengeksekusi beberapa proyek menjanjikan.
Oxenfree II: Lost Signals sukses rilis pada 2023, disusul oleh Thronglets pada 2025, hingga proyek pamungkas Unhinged yang baru saja rilis pada 30 Juni 2026.
Pihak Game File sempat melaporkan bahwa Co-CEO Netflix, Greg Peters, melempar pujian positif terhadap Unhinged saat meeting internal bersama investor.
Walau mendapat sanjungan tinggi, Netflix rupanya tetap mengeksekusi keputusan pahit untuk menutup permanen operasional Night School.
Lewat penutupan tragis ini, kisah manis antara Night School dan Netflix benar-benar berakhir setelah berjalan sekitar lima tahun.
Runtuhnya Night School dan Moonloot sangat berkaitan erat dengan pergeseran fokus haluan dari bisnis gaming milik Netflix.
Netflix kini lebih memilih untuk memusatkan perhatian pada kategori game yang punya jangkauan audiens lebih masif.
Fokus baru ini bakal menyasar lini game anak-anak, party game, game berbasis cerita, sampai judul-judul yang ramah untuk kalangan mainstream.
Game FIFA yang baru saja mendarat di layanan Netflix menjadi contoh paling nyata dari strategi anyar ini.
Ketimbang berdarah-darah mengandalkan IP orisinal dari studio internal, Netflix mulai rajin memburu game yang lebih gampang menggaet basis pelanggan streaming mereka.
Pergeseran manuver ini bukan berarti Netflix menyerah dan angkat kaki dari kerasnya industri game.
Mereka tetap menyuplai berbagai judul lewat ekosistem aplikasinya, tapi proses kurasi dan cara pengembangan proyeknya kini sangat disesuaikan dengan visi terbaru.
Di ranah internal, Netflix tidak segan untuk melakukan perampingan kapasitas staf secara agresif. Pihak manajemen sayangnya belum mau membeberkan angka pasti soal berapa banyak posisi staf yang harus gugur.
Kondisi tragis ini membuktikan bahwa meledaknya penjualan sebuah game tidak bisa menjamin keamanan kursi para developer di dalam studio.
Pihak manajemen akan dengan gampang memecat staf atau menyuntik mati studio jika strategi bisnis dan prioritas investasi mereka telah berbelok arah.
Bagi Night School, penutupan pahit ini menjadi garis finis dari perjalanan epik mereka dalam menciptakan karya beridentitas kuat seperti Oxenfree dan Afterparty.
Di sisi lain, Moonloot harus rela dipaksa berhenti sebelum proyek ambisius mereka sempat dicicipi oleh kalian.
Netflix pastinya tidak akan berhenti menggarap segmen gaming di dalam aplikasi mereka.
Namun setelah membuang banyak waktu dan modal untuk membangun studio mandiri, raksasa streaming ini akhirnya memilih pendekatan yang jauh lebih realistis.
Fokus baru untuk menggaet pasar anak-anak, penyuka party game, hingga pemain mainstream ini menjadi jalan keluar paling logis bagi mereka.
Strategi ini diharapkan sanggup menyelaraskan ekosistem gaming Netflix dengan demografi para pengguna layanan streaming mereka.
Sampai detik ini, belum ada kabar pasti soal proyek internal mana lagi yang bakal ikut terseret arus perombakan strategi ini.
Satu hal yang pasti, tumbangnya Night School dan Moonloot sukses menjadi catatan paling kelam dalam sejarah pergerakan Netflix sejak mereka mulai terjun ke industri ini.
Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian pernah memainkan Oxenfree? Jangan lupa follow DirektoriGim agar tetap update dengan berita video game lainnya ya!




