PRAGMATA Review Indonesia | DirektoriGim
Apakah Calon GOTY
Halo semuanya, nama gw Raden dari DirektoriGim. Setelah menunggu cukup lama sejak pertama kali diumumkan pada 2020, akhirnya gw dapet kesempatan langsung dari Capcom SEA buat nyobain dan bahkan namatin PRAGMATA.
Jadi, pertanyaannya sekarang, apakah game ini benar-benar sesuai dengan hype yang sudah dibangun selama ini? Tanpa basa-basi, langsung aja kita bahas di ulasan berikut ini!
Jujur, cukup tricky buat ngejelasin PRAGMATA ini dalam satu kalimat. Di era sekarang, banyak developer yang cenderung main aman. Mereka lebih milih ngejalanin formula yang udah terbukti berhasil, entah lewat sekuel atau remake, daripada ambil risiko bikin IP baru dengan visi yang beda. Tapi Capcom masih keliatan cukup berani. Di tengah industri AAA yang makin konservatif, mereka tetap konsisten ngerilis IP baru, dan PRAGMATA adalah salah satu di antaranya. PRAGMATA juga dieksekusi dengan sangat matang. Secara teknis terasa polished, dan dari sisi desain juga keliatan kalau ini bukan proyek yang setengah-setengah.
Di game ini, kita main sebagai Hugh Williams, seorang astronaut dari Delphi yang dikirim ke koloni riset medis di bulan. Tapi begitu sampai di sana, situasinya langsung nggak beres. Ada AI yang lepas kendali, yang ngebikin para astronaut yang dikirim kena musibah di base tersebut. Dari situ, kita mulai masuk ke misteri tentang apa sebenarnya yang terjadi di fasilitas itu.
Di tengah kekacauan itu, Hugh ketemu dengan seorang android misterius. Awalnya, dia nyebut dirinya dengan kode alfanumerik DI bla bla, tapi Hugh akhirnya manggil dia Diana biar lebih gampang. Dari situ, hubungan mereka langsung jadi inti dari pengalaman di PRAGMATA, baik dari sisi cerita maupun gameplay.
Gameplay Modern dengan Desain Arcade!
Secara gameplay, PRAGMATA ini adalah third person shooter, tapi punya twist yang bikin dia beda dari game lain di genre yang sama. Hugh berperan sebagai karakter yang fokus ke combat secara langsung, pakai berbagai senjata yang makin lama makin variatif. Tapi di saat yang sama, Diana punya peran yang nggak kalah penting, yaitu ngehack musuh.
Dan ini bukan sekadar gimmick. Hampir semua robot di game ini punya armor yang tebal banget, sampai senjata Hugh aja nyaris nggak ngaruh kalau belum dihack. Jadi tanpa Diana, bisa dibilang hampir mustahil buat ngelawan musuh dengan efektif.
Setiap kali kita ngarahin aim ke robot, kita juga bakal lihat semacam tampilan hacking dari perspektif Diana. Di situ muncul grid atau puzzle kecil yang harus kita selesaikan dengan cepat, sambil tetap bergerak dan nembak. Grid ini makin lama juga makin kompleks, jadi bisa dibilang butuh banyak kalori yang dibakar agar otak kita tetap bekerja saat memainkan game ini.
Semua ini juga terjadi secara real time, jadi player juga harus punya manajemen fokus, antara kapan harus ngehack, jaga jarak, atau ngindarin serangan musuh. Untungnya, animasi startup dan recovery di PRAGMATA cukup terasa, jadi gw pribadi bisa memperkirakan kapan harus dodge dan kapan harus nyerang. Dan saking gampangnya, bahkan di mode standard, gw lebih memprioritaskan upgrade buat senjata dibandingkan HP.
Berbicara soal upgrade, nantinya di PRAGMATA ini ada yang namanya Shelter atau safe house, di mana kalian bisa meng-upgrade senjata utama, hacking, atau armor milik Hugh, dan juga ngeprint senjata external. Selain itu, kalian juga bisa bertemu dengan Cabin, di mana kita bisa mengakses fitur untuk melengkapi bingo cards, buat unlock item ataupun kostum, dan ada juga VR mission eh, maksud gw training mission yang bakal ngasih reward berupa cabin stamp.
Di PRAGMATA, senjata utama kalian ini ammo-nya nggak habis-habis. Kalau pun habis, bisa charge sendiri. Karena itu, ada senjata external dengan berbagai tipe yang bisa digunakan sebagai damage dealer atau utility weapon yang bisa nge-stun musuh. Dan senjata-senjata ini bukan merupakan senjata yang permanen, jadi sifatnya recyclable. Di Shelter, kalian bisa nge-print senjata ini sebelum keluar buat ngadepin robot-robot yang ada.
Well, secara logika memang nggak terlalu masuk akal, tapi di PRAGMATA ini ada material yang bernama lunafilament, di mana material ini bisa digunakan untuk nge-print objek-objek sesuai dengan model yang diinginkan. Jadi, dalam konteks sci-fi, konsep ini masih terasa cukup keren.
Selain weapon type yang menjadi variasi gameplay, Diana juga punya utility tambahan lewat hacking mods. Hacking mods ini juga bersifat disposable, layaknya senjata external-nya Hugh, dan nodes ini akan muncul di tab hacking Diana. Ketika dia ngehack, kalau kita trigger, kita bakal nge-apply debuff ke musuh sesuai dengan konteks hacking nodes yang dipilih. Intinya, kita bisa ngedebuff atau mempercepat stagger musuh, dan lain-lain.
Dan semua ini dieksekusi dalam gameplay yang arcady layaknya game-game Capcom. Meskipun terlihat serius, di sini ada banyak hal yang bikin gamenya tetap terasa seperti game, bukan interactive movie. Beberapa orang bilang kalau gamenya repetitif di bagian akhir, tapi dengan banyaknya cara dan kemungkinan eksperimen dari weapon yang memang cukup terbatas, gw rasa gamenya tetap ngasih depth dan replayability value yang besar dari sisi gameplay-nya saja.
Untungnya, PRAGMATA juga dirancang sebagai game yang replayable, dengan backtracking layaknya formula metroidvania. Ketika mendapatkan upgrade tertentu dari Diana, kita bisa balik ke area-area sebelumnya buat buka path yang sebelumnya ketutup, untuk nyari collectibles, item yang bisa di-gift ke Diana, dan juga item-item buat upgrade. Elemen-elemen ini menambah penekanan pada backtracking untuk mencari item-item tersembunyi, dengan feeling yang menurut gw pribadi nggak ngebosenin, karena tetap menghadirkan challenge di setiap backtracking-nya.
Dari segi mekanik utamanya aja udah sekeren ini, dan surprisingly, melihat karakter Hugh yang terlihat besar, gamenya justru terasa fast paced, nggak terasa floaty, dan juga nggak terasa dibatasi. Hugh punya inertia movement layaknya modern RE, tapi feeling aiming-nya terasa lebih snappy dibandingkan RE. Hugh juga punya thruster buat nge-dash dan lompat, yang ngebikin opsi untuk ngehindar dari serangan musuh atau jaga jarak jadi jauh lebih luas.
Dan kalau kalian beranggapan gamenya mudah, well, sebenarnya nggak bisa dibilang mudah juga, karena kalau kena serangan, damage-nya cukup punishing ke HP bar-nya Hugh, yang bahkan sudah mendekati game-game souls-like. Tapi PRAGMATA bukan souls-like, dan gw rasa game ini tetap memberikan learning curve yang bertahap dan fair terhadap setiap encounter musuhnya, sehingga pemain bisa beradaptasi dengan gameplay yang punya berbagai macam layer ini.
Visual Direction yang Cakep Abis!
Visual direction di PRAGMATA ini benar-benar cakep. Gw bisa bilang sama persis seperti yang di-showcase di trailernya, jadi ini salah satu contoh game yang what you see is what you get. Gw juga merasa game-game Capcom yang belakangan rilis memang nggak menipu audiens dengan trailer palsu, karena hasil akhirnya memang secakep ini.
Game ini berhasil menangkap looks industrial dari sebuah perusahaan di bulan, di mana ada banyak package yang diproses dan berbagai fasilitas untuk mengolah barang serta melakukan riset. Selain itu, ada juga fasilitas untuk mensimulasikan apa yang ada di bumi, seperti looks kota yang satu ini. Waktu gw sampai di scene ini, gw cukup terpukau dengan skalanya. Bayangin, ukuran gamenya cuma sekitar 30 GB, tapi bisa menghadirkan level design yang sedetail dan semasif ini sejak awal permainannya.
Level Design di PRAGMATA
Gw juga cukup takjub bagaimana Capcom mendesain level-level ini agar tetap works sebagai platforming section sekaligus playground yang ngasih kita verticality buat eksplorasi. Kita bisa benar-benar bermain-main di area yang ada sambil memanfaatkan banyak tools yang disediakan game. Ini cukup berbeda dengan RE yang levelnya cenderung grounded dan terbatas. Di PRAGMATA, karena karakternya bisa lompat dan dash, sesi action di tiap level terasa lebih dinamis. Meskipun ada beberapa area yang ukurannya lebih kecil, navigasinya tetap terasa seru dan menyenangkan.
Level design ini juga menghadirkan environmental storytelling lewat adanya hologram yang berfungsi sebagai logs, ataupun dialog di area tertentu yang mengupas karakter-karakter, baik itu karakter utama maupun karakter lain yang terlibat di dunia ini, sekaligus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi di moon base tersebut. Jadi selain cutscene, ada juga environmental storytelling dengan presentasi yang cukup unik. Nggak cuma berupa text data, tapi juga ada versi hologram seperti ini.
Dan menurut gw, story-nya meskipun terbilang aman, tetap diceritakan dan ditulis dengan cukup baik, yang bikin gw cukup ke-hook dari awal sampai akhir untuk terus ngikutin misterinya.
Soundtrack dari game ini benar-benar bagus, bisa menangkap sci-fi vibes-nya lewat penggunaan electronic music untuk sesi action, dan juga musik-musik melodi futuristik untuk ngasih kesan safe place ataupun menyampaikan momen tertentu. Sound design-nya juga terdengar cukup crisp dan efektif dalam menangkap impact dari setiap serangan atau ketika berhasil nge-hack.
Performa
Untuk performa, gw main di PC lewat laptop midrange pakai RTX 2060, yang surprisingly masih kuat buat jalanin game ini dengan DLSS quality. Memang nggak constant 60 FPS, jadi gw juga nggak bisa banyak bahas soal implementasi path tracing-nya karena lagi jauh dari PC utama. Tapi kalau di laptop seperti ini aja masih kuat, menurut gw optimisasi game ini sudah sangat bagus. Kabarnya juga bisa dimainkan di Steam Deck, jadi itu bisa jadi nilai plus tambahan.
Final Verdict
Sebagai produk video game, PRAGMATA menawarkan ciri khas CAPCOM dalam menghadirkan game modern yang tetap terasa arcady dan menyenangkan untuk di-replay, dengan story yang nggak terlalu berat. Tapi kalau dibilang nggak spesial, menurut gw justru game ini cukup spesial, terutama dari interaksi antara Hugh dan Diana. Misalnya, Diana bisa ngasih kita gambar yang dia buat sendiri, yang menunjukkan sisi bonding antara anak dan orang tua, dan itu terasa cukup kuat secara emosional.
Menurut gw, PRAGMATA juga merupakan game yang cocok untuk semua umur. Jadi buat kalian yang sudah berkeluarga, game ini cukup aman untuk dimainkan bareng anak-anak. Buat gw pribadi, PRAGMATA adalah GOTY material yang sangat kuat. Saat ini, game-nya juga sudah mendapatkan ulasan overwhelmingly positive di Steam dari sekitar 9000 review. Dan gw termasuk orang yang dengan sukarela menyumbang penilaian positif tersebut, karena gw ngasih game ini skor 10/10.
Sebagai orang yang sudah mainin ribuan game, gw rasa PRAGMATA berhasil ngasih challenge yang fun, menghadirkan replayability yang besar, dan juga ngecapture feel CAPCOM di era-era PS2 yang berani banget bikin IP baru. Gw juga berharap PRAGMATA bisa dapetin sekuel atau lanjutan yang nggak terlalu terhubung langsung dengan base game-nya, karena menurut gw IP ini cukup spesial dan punya banyak potensi untuk dikembangkan di masa depan.
#gaming #pragmata #capcom

















