Mungkin kita sempat penasaran dengan alasan karakter perempuan sering berada di fokus cerita horror Jepang, baik sebagai protagonis maupun sosok supernatural yang menjadi sumber teror.
Motoi Okamoto selaku producer seri Silent Hill dan Makoto Shibata selaku creator seri Fatal Frame membahas alasan di balik kecenderungan tersebut, termasuk bagaimana oppression membentuk cerita tentang hantu pendendam.
Dilansir dari roundtable interview Dengeki Online yang dikutip dan diterjemahkan oleh AUTOMATON West, Motoi Okamoto dan Makoto Shibata sebagai kreator Fatal Frame kini membicarakan Silent Hill f, Fatal Frame, serta karakteristik J-horror lebih luas. Interview ini dilakukan dalam memperingati kolaborasi Silent Hill f dan Fatal Frame II: Crimson Butterfly Remake yang hadir pada musim panas lalu.
Kedua game tersebut sama-sama menggunakan Jepang pada era Showa sebagai latar, tetapi alasan pemilihan periodenya berbeda. Fatal Frame mengambil latar sekitar tahun 1980-an karena Shibata ingin menggunakan periode sebelum ponsel tersebar luas.
Sementara itu, Silent Hill f mengambil latar sekitar tahun 1960-an. Okamoto memilih periode tersebut karena keberadaan yokai masih terasa masuk akal, sementara folk beliefs, legenda supernatural, dan cerita tentang makhluk tersebut baru mulai menghilang dari kehidupan masyarakat.
Shibata menjelaskan kalau latar belakang Jepang pada era Showa awal bisa terasa seperti fantasy jika dilihat dari sudut pandang orang modern. Ia juga menghubungkan perkembangan mobile phone pada era 1990-an dengan J-horror boom.
Menurut Shibata, horror yang mengambil latar sebelum mobile phone menjadi hal umum memiliki karakteristik yang berbeda dari horror setelah era tersebut.
Ia bahkan menyebut J-horror dari periode itu sebagai versi gothic horror dari Jepang.
Okamoto setuju dengan perbandingan tersebut. Producer seri Silent Hill itu menggambarkan suasananya seperti perjalanan menggunakan kereta kuda menuju kastil Dracula di Transylvania, tetapi kalian malah tersesat ke desa Jepang yang masih dipenuhi adat kuno.
“Rasanya seperti melakukan perjalanan menggunakan kereta kuda menuju kastil Dracula di Transylvania, tetapi kalian malah tersesat ke desa Jepang yang dipenuhi adat kuno,” ujar Okamoto.
Latar historis tentunya penting bagi Silent Hill f. Okamoto mengaku sempat terkejut ketika scenario writer Ryukishi07 mengusulkan marriage sebagai tema utama game.
Namun, ia kemudian melihat bahwa tema tersebut cocok dengan periode ketika arranged marriage masih umum dilakukan. Sekitar tahun 1960-an, gerakan untuk memperjuangkan hak sosial perempuan juga mulai mendapatkan momentum.
Menurut Okamoto, era tersebut sesuai untuk menggambarkan Jepang yang sedang berada di ambang modernisasi, tetapi masih belum menjadi yang dikenal saat ini.
Pembahasan mereka kemudian beralih ke karakter perempuan dalam J-horror.
Seri Fatal Frame sejak awal sering menggunakan perempuan sebagai protagonis, sedangkan Hinako dari Silent Hill f menjadi protagonis perempuan kedua dalam seri Silent Hill setelah Silent Hill 3.
Silent Hill 3 sendiri mengangkat tema seperti kehamilan dan persalinan paksa. Di sisi lain, banyak hantu perempuan dalam J-horror digambarkan sebagai sosok yang mengalami oppression sebelum meninggal.
Menurut Shibata, hantu perempuan sering terasa menakutkan karena mereka digambarkan sebagai sosok yang tidak memiliki kekuatan fisik, tetapi masih menyimpan kekuatan spiritual setelah kematian.
“Mereka mungkin lemah secara fisik, tetapi roh dan kekuatan supernatural mereka sangat kuat. Karena itu, hantu dari perempuan yang tampak tidak berdaya bisa terasa sangat menakutkan,” ujar Shibata.
Di Fatal Frame, kalian tidak bisa menyelesaikan konflik dengan hantunya dengan serangan fisik. Sang protagonis harus mempelajari hantu tersebut, memahami kisahnya, lalu mendekatinya sebelum bisa menenangkan atau mengakhiri penderitaannya.
Shibata berpendapat kalau protagonis laki-laki bisa mengarahkan game ke usaha untuk menaklukkan atau mengalahkan hantu. Oleh karena itu, seri Fatal Frame selalu menggunakan protagonis perempuan yang sering ditempatkan dalam situasi yang mirip dengan hantu yang mereka hadapi.
Ia juga menjelaskan bahwa ada rasa horror tersendiri dari gagasan bahwa dendam seseorang masih bisa bertahan setelah kematian, terutama jika orang tersebut mengalami pembungkaman semasa hidupnya.
Okamoto kemudian menghubungkan gagasan tersebut dengan Oiwa dari Yotsuya Kaidan. Oiwa merupakan perempuan yang dirugikan dan menjadi fokus dari salah satu kisah hantu paling terkenal di Jepang.
Menurut Okamoto, kisah Oiwa menunjukkan bagaimana perempuan yang dibungkam dalam masyarakat yang didominasi laki-laki masih dapat memiliki kekuatan balas dendam setelah kematian. Ia melihat gagasan tersebut sebagai salah satu bagian dari tradisi horror Jepang.
Dari pembahasan ini, protagonis perempuan dalam Silent Hill f dan Fatal Frame tidak hanya berfungsi sebagai karakter yang menghadapi hantu. Mereka juga menjadi penghubung untuk memahami pengalaman, penderitaan, dan dendam yang membentuk sosok-sosok supernatural dalam cerita.
Bagaimana menurut kalian dengan cara J-horror menggambarkan karakter perempuan dan hantu pendendam? Follow DirektoriGim agar tetap update dengan berita videogame lainnya!






