Ada alasan mengapa Evil Empire menarik untuk diperhatikan sebagai studio yang menggarap Castlevania: Belmont’s Curse. Setelah mengembangkan Return to Castlevania, DLC bertema Castlevania untuk Dead Cells, mereka kini dipercaya mengembangkan game Castlevania dengan protagonis baru dan cerita yang melanjutkan peristiwa Castlevania III.
Kepercayaan tersebut terbayar melalui sebuah petualangan metroidvania yang berhasil mempertahankan daya tarik utama waralaba ini. Setelah menamatkan permainan, saya merasa Belmont’s Curse menawarkan kombinasi gameplay yang memuaskan, eksplorasi penuh rahasia, serta presentasi artistik yang menjadi salah satu kekuatan terbesarnya.
Video first impression demo Castlevania: Belmont’s Curse
Dalam preview sebelumnya, kami sudah membahas impresi awal, cerita, dan sejumlah informasi mengenai proses pengembangannya. Kali ini, fokus pembahasan akan diarahkan pada pengalaman bermain versi penuh, mulai dari presentasi visual, sistem pertarungan, eksplorasi, progresi karakter, hingga sejumlah kekurangan yang terasa sepanjang petualangan.
Visual Artistik yang Memperkuat Atmosfer Castlevania
Salah satu aspek yang paling berkesan dari Castlevania: Belmont’s Curse adalah presentasi visualnya. Evil Empire menggunakan visual 3D dengan teknik shading menyerupai lukisan, kemudian menempatkannya dalam bidang permainan 2D atau 2,5D. Hasilnya terasa berbeda dari pendekatan pixel art yang menjadi ciri khas Dead Cells.
Area Clocktower di kastel Dracula yang penuh jebakan platformer, dengan kontras latar belakang langit merah
Setiap lingkungan tampak seperti ilustrasi yang bergerak, dengan komposisi warna dan pencahayaan yang disesuaikan untuk memperkuat identitas masing-masing lokasi. Gorong-gorong Paris menggunakan palet kuning kehijauan yang suram, sedangkan jalanan kota didominasi warna merah dan hitam. Ketika perjalanan mulai mendekati kastel Dracula, nuansa biru menjadi lebih dominan dan mempertegas perubahan atmosfer.
Duel di tengah-tengah lautan api melawan Joan of Arc
Area menuju kastel Dracula menjadi salah satu bagian favorit saya. Siluet bangunan berwarna hitam berpadu dengan langit dan latar belakang Paris yang tengah dilalap api, menciptakan komposisi visual yang dramatis. Perpaduan tersebut memperkuat kesan bahwa Rose sedang memasuki wilayah yang semakin berbahaya.
Variasi visual di setiap lokasi juga memberikan identitas tersendiri bagi lingkungan yang dijelajahi. Perubahan palet warna, desain latar belakang, dan komposisi ruang membuat perjalanan terasa segar, bahkan ketika pemain menghabiskan waktu cukup lama untuk menjelajahi satu area.
Soundtrack Elektronik dengan Identitas Baru
Pendekatan berbeda juga terlihat dari musiknya. Jika mengacu pada sejumlah seri klasik seperti Castlevania: Symphony of the Night, pemain mungkin mengharapkan aransemen yang kental dengan nuansa orkestra dan gothic. Namun, Belmont’s Curse memilih arah musikal yang lebih condong ke musik elektronik melalui komposisi ASADI.
Boss fight bisa berlangsung sengit, bahkan di awal game
Pada awalnya, pendekatan ini terasa cukup mengejutkan, terutama bagi saya yang sudah terbiasa dengan identitas musik Castlevania sebelumnya. Absennya Michiru Yamane, komposer veteran yang dikenal melalui sejumlah seri klasiknya, juga membuat saya penasaran dengan arah yang dipilih tim pengembang.
Namun, setelah menjelajahi berbagai area, saya mulai menikmati karakter soundtrack-nya. Musik elektronik yang digunakan mampu membangun atmosfer tersendiri tanpa kehilangan kesan misterius dan gelap yang melekat pada Castlevania.
Pemilihan warna yang bold dari Castlevania: Belmont’s Curse
Salah satu referensi klasik yang menarik adalah Crimson Dungeon, aransemen baru yang berkaitan dengan Bloody Tears dan mengiringi perjalanan menuju area kastel. Bagi penggemar lama, penggunaan kembali elemen musikal yang sudah dikenal ini menjadi penghubung antara identitas klasik waralaba dan pendekatan baru yang dibawa Belmont’s Curse.
Dari sejumlah komposisi orisinalnya, tiga lagu yang paling saya sukai adalah Streets of Fire, Fate’s Blade, dan Forbidden Archives. Lagu pertama memperkuat suasana jalanan Paris, sedangkan Fate’s Blade memberikan iringan yang sesuai untuk pertarungan melawan Medusa.
Favorit saya tetap Forbidden Archives, yang diputar di area perpustakaan sebelum pertemuan dengan Carmilla. Ritmenya terasa cocok dengan suasana perpustakaan kastel Dracula, sehingga eksplorasi di area tersebut memiliki karakter musikal yang kuat.
Antarmuka dan Voice Acting yang Mendukung Presentasi
Aspek presentasi lainnya yang patut diapresiasi adalah desain antarmuka atau user interface (UI). Penggunaan warna emas kecokelatan memberikan kesan elegan sekaligus memperkuat identitas visual permainan. Desainnya terasa selaras dengan dunia Castlevania, tanpa mengganggu keterbacaan informasi yang dibutuhkan pemain.
Pengaruh serial animasi Castlevania dari Netflix juga cukup terasa, terutama pada ilustrasi karakter ketika dialog berlangsung, adegan sinematik, dan pendekatan desain karakternya. Gaya visual tersebut membantu memberikan karakter yang lebih ekspresif kepada para tokoh yang terlibat dalam cerita.
Penampilan para voice actor di game patut diacungi jempol dua
Penampilan para pengisi suara turut memperkuat presentasi tersebut. Setiap dialog terdengar meyakinkan, dengan penyampaian yang mampu mendukung karakterisasi masing-masing tokoh. Kombinasi ilustrasi, animasi, dan voice acting membuat momen cerita terasa lebih hidup sepanjang petualangan.
Sistem Tarot dan Kemampuan yang Membuka Eksplorasi
Bagi penggemar Castlevania yang lebih menyukai pendekatan visual 2D tradisional, perubahan gaya grafis Belmont’s Curse mungkin membutuhkan sedikit penyesuaian. Namun, dari sisi gameplay, fondasi metroidvania yang menjadi ciri khas waralaba ini tetap dipertahankan.
Skill Arcane Whip dari Tarot saat digunakan menjelajah area
Salah satu mekanik yang paling menarik adalah sistem kartu Tarot. Setiap boss yang berhasil dikalahkan akan memberikan akses terhadap kemampuan mereka melalui kartu Tarot yang dikoleksi Rose. Kemampuan tersebut terbagi menjadi dua kategori, yaitu skill yang dapat digunakan tanpa mengonsumsi MP dan spell yang membutuhkan MP untuk melancarkan serangan ofensif, seperti Holy Cross dan Petrifying Gaze.
Sistem ini memberikan variasi dalam menghadapi musuh sekaligus memperkaya interaksi dengan karakter yang telah dikalahkan. Ketika menjelajahi area tertentu, pemain bisa memicu dialog khusus dengan karakter yang tersimpan di kartu Tarot. Setiap boss memiliki kepribadian dan cara berbicara yang berbeda, sehingga interaksi mereka terasa menarik untuk diikuti.
Ada pula sejumlah perkembangan cerita yang memberikan konteks baru terhadap kemampuan yang diperoleh pemain. Salah satu contohnya adalah The Fallen, boss yang kartu Tarot-nya bisa didapatkan pada awal permainan. Setelah identitasnya terungkap, penggunaan bumerang berbentuk salib serta kemampuan Arcane Whip yang diperoleh setelah mengalahkannya menjadi lebih masuk akal dalam konteks cerita.
Selain Arcane Whip, pemain akan memperoleh kemampuan lain yang membantu perjalanan Rose. Aerial Rush memungkinkan pemain melakukan dash ketika melompat, Holy Light dapat digunakan untuk membuka penghalang sekaligus menangkis serangan tertentu, sedangkan Double Jump memberikan kemampuan melompat dua kali.
Kemampuan-kemampuan ini menjadi fondasi penting bagi sistem permainan. Semakin jauh perjalanan berlangsung, semakin banyak jalur dan tantangan yang bisa diakses melalui kombinasi kemampuan tersebut.
Platforming yang Menguji Refleks Tanpa Terlalu Menghukum
Kemampuan baru Rose sangat berguna ketika menghadapi segmen platforming di berbagai area. Pemain dituntut memperhatikan posisi pijakan, mengatur momentum lompatan, dan menggunakan kemampuan yang tersedia dengan tepat. Beberapa bagian bahkan membutuhkan refleks cepat agar Rose tidak terjatuh atau terkena jebakan.
Mempertahankan momentum ayunan, dari satu titik ke titik lain
Meski tingkat kesulitannya cukup tinggi, segmen platforming Belmont’s Curse relatif ramah terhadap kesalahan pemain. Jebakan duri tidak langsung menyebabkan kematian, dan damage yang diterima juga tidak terlalu besar. Ketika terkena duri, Rose akan kembali ke titik terdekat sehingga pemain dapat mencoba kembali tanpa harus mengulang perjalanan panjang.
Pendekatan ini membuat tantangan platforming tetap terasa menegangkan tanpa terlalu mengganggu momentum permainan. Pemain masih dituntut menguasai pergerakan karakter, tetapi kesalahan kecil tidak selalu berujung pada hukuman yang berlebihan.
Eksplorasi Penuh Rahasia dan Teka-Teki Lingkungan
Eksplorasi merupakan inti dari pengalaman metroidvania, dan Belmont’s Curse memahami aspek tersebut dengan baik. Berbagai area menyimpan jalur alternatif, ruang tersembunyi, serta dinding yang bisa dihancurkan untuk memperoleh makanan pemulih HP dan item lainnya.
Rahasia semacam ini sudah menjadi bagian penting dari identitas Castlevania. Pemain yang terbiasa memeriksa setiap sudut ruangan akan memperoleh lebih banyak sumber daya sekaligus menemukan jalur yang mungkin terlewatkan ketika hanya mengikuti jalan utama.
Saya juga menyukai detail kecil pada sistem save room. Cahaya yang memancar dari salah satu pintu dapat menjadi petunjuk bahwa ruangan penyimpanan berikutnya berada tidak jauh dari posisi pemain. Indikator ini terasa sederhana, tetapi cukup membantu ketika perjalanan mulai memasuki area yang lebih panjang.
Kastel Dracula terlihat dari kejauhan, setelah gerbang kota Paris dibuka
Selain rahasia berupa item dan jalur alternatif, Belmont’s Curse menyertakan teka-teki lingkungan yang mengharuskan pemain mengumpulkan petunjuk dari roh-roh yang bergentayangan maupun objek tertentu, seperti patung dan meja kerja. Informasi tersebut membantu pemain menemukan akses menuju area boss berikutnya.
Salah satu contoh yang menarik adalah petunjuk mengenai potret Alucard di area kastel. Pemain mungkin mengira bahwa mengikuti lokasi yang menampilkan lukisan tersebut sudah cukup untuk menemukan tujuan berikutnya. Namun, petunjuknya menuntut pengamatan lebih teliti terhadap lukisan dan lingkungan di sekitarnya.
Hal ini membuat latar belakang memiliki fungsi yang lebih penting daripada sekadar dekorasi. Bentuk ruangan, susunan objek, dan bagian dinding tertentu bisa menyimpan petunjuk yang membantu pemain memecahkan teka-teki. Karena itu, saya menyarankan pemain untuk memperhatikan lingkungan secara saksama, terutama ketika petunjuk yang diberikan terasa ambigu.
Variasi Senjata dan Relic untuk Menyesuaikan Gaya Bermain
Hasil eksplorasi akan memberikan berbagai senjata dan relic yang dapat digunakan untuk menyesuaikan gaya bermain. Sistem persenjataan Belmont’s Curse memiliki tujuh kategori senjata, masing-masing dengan empat tingkatan kualitas, yaitu Ordinary, Refined, Masterpiece, dan Legendary. Setiap tingkatan menawarkan peningkatan base damage.
Namun, perbedaan senjata tidak berhenti pada besaran damage. Setiap kategori memiliki karakteristik dan teknik penggunaan tersendiri yang memengaruhi cara pemain menghadapi musuh.
Spear, misalnya, dapat digunakan untuk menyerang dari jarak tertentu maupun dilemparkan ke arah target. Whip membutuhkan pengaturan jarak yang lebih presisi karena bagian ujungnya menghasilkan damage terbesar. Pemain yang mampu menjaga jarak serangan dengan baik dapat memaksimalkan potensi senjata tersebut.
Sword and Shield juga menawarkan mekanik yang menarik. Dengan menahan tombol serangan untuk melakukan charge, pemain dapat melancarkan Shield Bash. Kemampuan ini berguna untuk memberikan damage sekaligus membantu Rose menjangkau tempat yang sulit dicapai melalui lompatan biasa.
Sistem relic memberikan lapisan strategi tambahan. Pemain hanya bisa menggunakan maksimal tiga relic dalam satu waktu, sehingga pemilihan kombinasi yang tepat menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi tantangan.
Setiap relic menawarkan efek yang berbeda, lengkap dengan konsekuensinya. Midnight Tear meningkatkan DEF ketika MP habis, sedangkan Beelzebub’s Seal meningkatkan ATK dengan mengorbankan HP maksimum. Efek semacam ini mendorong pemain mempertimbangkan keuntungan dan risiko sebelum menentukan konfigurasi yang digunakan.
Dengan beragam pilihan senjata dan relic, pemain memiliki ruang untuk bereksperimen dan menyesuaikan strategi berdasarkan kebutuhan. Kombinasi yang tepat dapat memberikan keuntungan besar, terutama ketika menghadapi boss dengan pola serangan yang sulit diprediksi.
Progresi Karakter yang Mendorong Eksplorasi
Belmont’s Curse tidak menggunakan sistem perdagangan dengan NPC merchant. Senjata, relic, skill, spell, dan berbagai item lainnya diperoleh melalui eksplorasi serta keberhasilan mengalahkan musuh dan boss.
Sistem peningkatan level mengandalkan XP yang dikumpulkan dari pertempuran dan objek tertentu yang tersebar di berbagai area. Selain itu, pemain dapat meningkatkan HP dan MP maksimum dengan mencari Brave Heart Fragment dan Wise Heart Fragment. Peningkatan ATK dan DEF juga bisa diperoleh melalui buku merah dan biru yang ditemukan selama perjalanan.
Lukisan Notre Dame yang terdapat di aula kastel
Struktur progresi ini membuat eksplorasi terasa semakin penting. Pemain yang meluangkan waktu untuk memeriksa lingkungan dan mencari item tersembunyi akan memperoleh peningkatan kemampuan yang membantu menghadapi tantangan berikutnya.
Ada pula sistem bernama Works of Mercy yang digunakan untuk meningkatkan efektivitas spell. Setiap spell memiliki persyaratan peningkatan tersendiri. Beberapa meminta pemain mengumpulkan jenis senjata tertentu, mengalahkan sejumlah musuh menggunakan spell terkait, atau memenuhi ketentuan penggunaan lainnya.
Setelah persyaratan terpenuhi, pemain dapat memilih peningkatan dari opsi yang tersedia. Menyelesaikan seluruh peningkatan untuk suatu spell juga membuka dialog yang mengungkap latar belakang boss terkait sebelum mereka menjadi lawan Rose.
Mekanik ini memberikan alasan tambahan untuk bereksperimen dengan kemampuan yang tersedia. Pemain tidak hanya memperoleh peningkatan kekuatan, tetapi juga bisa menggali cerita di balik karakter yang ditemui sepanjang permainan.
Boss Fight yang Menuntut Ketepatan dan Adaptasi
Berbagai sistem yang ditawarkan Belmont’s Curse akhirnya diuji melalui pertarungan boss. Secara keseluruhan, pertarungannya cukup menantang dan menuntut pemain memahami pola serangan, mengatur posisi, serta memanfaatkan celah yang tersedia.
Banyak boss memiliki jangkauan serangan yang luas, sehingga pemain tidak bisa terus-menerus mengandalkan posisi aman di salah satu ujung arena. Serangan dengan area efek atau area of effect (AOE) juga memaksa pemain memperhatikan ruang gerak dan mencari celah untuk menghindar.
Melawan Carmilla di kolam darah
Talos menjadi salah satu contoh pertarungan dengan pendekatan yang berbeda. Pertarungannya terasa seperti menghadapi tantangan bullet hell, dengan beragam serangan yang memenuhi arena. Pemain harus memperhatikan bagian tubuh yang bisa diserang sekaligus menghindari rentetan serangan yang datang dari berbagai arah.
Medusa juga memiliki mekanik yang sesuai dengan mitologi yang menjadi inspirasinya. Tatapannya dapat mengubah Rose menjadi batu apabila pemain tidak bereaksi dengan tepat. Ketika Medusa memberi peringatan melalui dialog “Look into my eyes”, pemain perlu membalikkan arah hadap Rose agar serangannya tidak mengenai sasaran.
Detail seperti ini membuat pertarungan boss terasa lebih bervariasi. Pemain tidak cukup hanya menghafal pola serangan, tetapi juga harus mengenali tanda-tanda sebelum serangan dilancarkan dan memahami cara kerja mekanik khusus setiap boss.
Namun, tingkat kesulitan tersebut terkadang bisa terasa berlebihan. Beberapa pertarungan memberikan ruang kesalahan yang sangat sempit, sehingga satu keputusan yang terlambat dapat berujung pada kematian. Meski begitu, ketika pemain mulai memahami pola serangan dan menemukan strategi yang sesuai, kemenangan terasa memuaskan.
Easter Egg yang Menunjukkan Penghormatan terhadap Franchise
Belmont’s Curse menunjukkan bahwa Evil Empire memahami warisan Castlevania. Sepanjang permainan, terdapat berbagai referensi yang ditujukan kepada penggemar lama, mulai dari potret karakter hingga kemunculan boss yang sudah dikenal dari seri sebelumnya.
Di aula kastel, pemain dapat menemukan potret Alucard dan Shanoa, dua karakter yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah waralaba. Kehadiran Medusa dan Carmilla sebagai boss juga memperkuat hubungan permainan ini dengan seri-seri terdahulu.
Area interior kastel yang menyerupai labirin
Salah satu referensi favorit saya adalah kode Konami yang dapat dimasukkan melalui menu utama untuk memperoleh kostum bonus yang terinspirasi dari penampilan Sonia Belmont, protagonis Castlevania: Legends di Game Boy.
Referensi semacam ini memberikan nilai tambah bagi pemain yang mengikuti perjalanan Castlevania selama bertahun-tahun. Easter egg-nya juga tersebar di berbagai bagian permainan, sehingga pemain yang gemar memperhatikan detail memiliki alasan tambahan untuk menjelajahi setiap area.
Kekurangan Castlevania: Belmont’s Curse
Terlepas dari berbagai kelebihannya, Belmont’s Curse masih memiliki beberapa aspek yang terasa kurang nyaman selama permainan.
Beberapa Boss Terasa Terlalu Sulit
Masalah terbesar yang saya rasakan adalah tingkat kesulitan pada beberapa pertarungan boss, terutama Death. Pola serangan sabitnya menuntut keputusan dalam waktu sangat singkat, sementara pemain perlu memanfaatkan Arcane Whip untuk menghindari serangan dengan tepat.
Saya sampai berulang kali mengalami kematian ketika menghadapinya. Dibandingkan pertarungan lain yang masih memberikan kesempatan untuk mempelajari pola serangan secara bertahap, Death terasa memiliki margin kesalahan yang terlalu tipis.
Tentu saja, sebagian kesulitan tersebut bisa jadi berkaitan dengan kemampuan pemain. Namun, dari pengalaman saya, ada beberapa momen ketika tantangannya terasa lebih melelahkan daripada memuaskan.
Jarak Save Room yang Terlalu Jauh
Penempatan save room juga menjadi persoalan, terutama pada bagian awal permainan sebelum pemain mencapai kastel Dracula dan membuka fast travel. Jarak antartitik penyimpanan yang cukup jauh membuat perjalanan kembali ke lokasi sebelumnya terasa menjemukan.
Persoalan ini semakin terasa karena kematian akan mengembalikan pemain ke save room terakhir. Berbeda dengan jebakan duri yang hanya membuat Rose muncul kembali di titik terdekat, kematian dalam pertarungan dapat memaksa pemain mengulang perjalanan yang cukup panjang.
Di satu sisi, sistem ini mendorong pemain untuk berhati-hati dan menjelajahi area secara menyeluruh. Pemain juga dapat menemukan makanan untuk memulihkan HP dan memperoleh potion tambahan dari musuh biasa, meskipun peluang mendapatkannya tidak selalu terjamin. Rose hanya membawa tiga potion yang dapat diisi kembali ketika mengunjungi save room.
Meski pendekatan tersebut memberikan konsekuensi terhadap setiap keputusan, jarak penyimpanan yang terlalu jauh terkadang membuat pengulangan terasa melelahkan.
Kontrol Karakter dan Performa PC
Ada dua aspek yang menurut saya tidak menjadi masalah berarti, meskipun mungkin dirasakan berbeda oleh pemain lain.
Pertama, kontrol Rose. Pada awal permainan, kemampuan pergerakannya memang masih terbatas pada beberapa teknik dasar, seperti slide, backdash, dan wall jump. Namun, setelah memperoleh kemampuan tambahan dari boss, terutama Double Jump, pergerakannya terasa jauh lebih fleksibel.
Kedua, performa versi PC. Sepanjang permainan saya tidak menemukan glitch, stutter, ataupun gangguan grafis yang mengganggu pengalaman bermain. Dari sisi teknis, versi yang saya mainkan berjalan dengan baik.
Verdict: Metroidvania yang Layak Dicoba Penggemar Castlevania
Skor: 8/10
Castlevania: Belmont’s Curse menjadi bukti bahwa Evil Empire mampu menerjemahkan pengalaman mereka mengembangkan Dead Cells ke dalam petualangan Castlevania yang memiliki identitas tersendiri. Presentasi visualnya memukau, soundtrack-nya menawarkan pendekatan baru, dan sistem gameplay-nya memberikan banyak alasan untuk terus menjelajahi setiap sudut peta.
Variasi senjata, relic, kemampuan dari kartu Tarot, serta teka-teki lingkungan membuat eksplorasi terasa rewarding. Pertarungan boss juga menawarkan tantangan yang menguji refleks dan kemampuan pemain beradaptasi dengan mekanik yang berbeda-beda.
Meski begitu, beberapa boss terasa terlalu sulit, sedangkan jarak save room pada bagian awal permainan berpotensi mengganggu momentum petualangan. Kedua masalah tersebut tidak sampai menghilangkan daya tarik utama permainan, tetapi tetap menjadi catatan yang perlu diperhatikan.
Bagi penggemar metroidvania, khususnya mereka yang mengikuti perjalanan Castlevania, Belmont’s Curse merupakan rekomendasi yang layak dipertimbangkan. Permainan ini menawarkan tantangan yang memuaskan, eksplorasi yang kaya, dan presentasi artistik yang memperkuat atmosfer dunia Castlevania.
Pada akhirnya, Belmont’s Curse berhasil mempertahankan fondasi gameplay yang membuat Castlevania dicintai penggemarnya, sembari membawa sejumlah pendekatan baru yang memberikan warna tersendiri pada petualangan Rose.
Bagaimana menurut kalian? Apakah Castlevania: Belmont’s Curse layak masuk jajaran game Castlevania terbaik? Sampaikan pendapat kalian di kolom komentar dan ikuti DIREKTORIGIM untuk mendapatkan ulasan game lainnya.


















