Capcom berada dalam periode yang sangat kuat sepanjang 2026. Dengan RE Engine sebagai teknologi utama mereka, publisher asal Jepang tersebut kembali menunjukkan bagaimana sebuah developer dapat mengembangkan berbagai franchise dengan identitas yang berbeda-beda. Salah satu hasilnya adalah Monster Hunter Stories 3: Twisted Reflection, entri terbaru dari seri spin-off Monster Hunter yang kali ini hadir dengan skala jauh lebih ambisius.
Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu cocok dengan Monster Hunter Stories sebelumnya, terutama Monster Hunter Stories 2. Gameplay loop-nya terasa cukup repetitif dan saya selalu lebih menikmati seri utama Monster Hunter. Namun Stories 3 berhasil mengubah pandangan tersebut.
Setelah menyelesaikan game ini dalam waktu sekitar 70 jam, saya justru merasa Monster Hunter Stories 3 merupakan salah satu entri terbaik dalam franchise Monster Hunter. Bahkan bagi kalian yang selama ini lebih menyukai seri utama, game ini punya cukup banyak alasan untuk membuat kalian jatuh cinta.
Perayaan untuk Franchise Monster Hunter
Salah satu hal yang paling menyenangkan dari Monster Hunter Stories 3 adalah jumlah monster yang bisa kalian temui, buru, dan jadikan partner.
Game ini terasa seperti sebuah perayaan terhadap sejarah Monster Hunter. Berbagai monster dari generasi lama, terutama dari generasi kedua dan ketiga, kembali hadir, sementara monster dari generasi yang lebih baru juga ikut melengkapi roster.
Bagi penggemar lama Monster Hunter, kemunculan monster-monster tertentu sering kali memberikan momen kejutan tersendiri. Ada rasa penasaran setiap kali memasuki area baru dan bertanya-tanya monster apa yang akan muncul berikutnya.
Hal tersebut membuat eksplorasi terasa lebih rewarding, terutama karena monster yang kalian temui tidak hanya berfungsi sebagai musuh. Mereka bisa menjadi bagian dari tim kalian.
Protagonis yang Kini Lebih Berkarakter
Salah satu perubahan terbesar dibandingkan game sebelumnya terletak pada protagonisnya. Kali ini, karakter utama yang dapat dikustomisasi tidak lagi digambarkan sebagai anak kecil. Protagonisnya sudah dewasa dan memiliki personality serta dialog yang ditulis dengan jauh lebih matang.
Perubahan ini secara otomatis membuat tone cerita terasa lebih serius. Namun Capcom tetap mempertahankan rasa child-like wonder yang menjadi salah satu ciri khas Monster Hunter Stories.
Menurut saya, perpaduan tersebut bekerja dengan sangat baik.
Perjalanan protagonis terasa lebih personal karena kita tidak lagi sekadar mengikuti karakter kosong yang hanya menjadi representasi pemain. Ia memiliki kepribadian, respons, serta perkembangan sepanjang cerita. Hal ini semakin diperkuat oleh berbagai companion yang menemani perjalanan kita.
Setiap karakter memiliki personality yang berbeda dan cukup ekspresif. Interaksi di antara mereka membuat perjalanan terasa lebih hidup, terutama ketika party mulai dipenuhi karakter dengan kepribadian yang saling bertolak belakang.
Bahkan Rudy, Palico yang menemani perjalanan kita, mendapatkan penulisan yang cukup baik. Perannya tidak berhenti sebagai comic relief, tetapi juga memiliki charm dan kontribusi tersendiri terhadap cerita.
Cerita yang Lebih Serius dan Ambisius
Monster Hunter Stories 3: Twisted Reflection mengikuti perjalanan seorang Rider yang merupakan pewaris kerajaan Azuria. Cerita kemudian berkembang menjadi konflik yang melibatkan dua kerajaan besar, Azuria dan Vermeil, sekaligus sebuah bencana lingkungan yang perlahan menghancurkan ekosistem dunia.
Di tengah konflik tersebut, muncul kembali sepasang Rathalos kembar yang sebelumnya dianggap telah punah. Kemunculan mereka menjadi salah satu misteri utama cerita, terutama karena terjadi bersamaan dengan fenomena bernama encroachment, sebuah bencana yang membuat habitat monster semakin rusak dan mengganggu keseimbangan alam.
Premis tersebut memberikan Stories 3 skala cerita yang terasa lebih besar dibandingkan pendahulunya. Yang paling mengejutkan bagi saya justru kualitas penulisannya.
Salah satu kritik yang sering muncul terhadap seri utama Monster Hunter adalah bagaimana cerita terkadang terasa seperti pelengkap untuk aktivitas berburu. Stories 3 justru mengambil pendekatan yang berbeda. Saya benar-benar merasa terlibat dengan perjalanan karakter dan konflik yang terjadi di dunia game ini.
Bahkan beberapa bagian menjelang endgame berhasil memberikan momen yang cukup emosional dan membuat saya merinding. Bukan hanya cerita utama, berbagai side mission dan cerita yang berhubungan dengan party member juga memiliki bobot tersendiri. Hal ini membuat karakter-karakternya terasa lebih dari sekadar NPC yang ikut bertarung bersama kita.
Dunia yang Terlihat Sangat Indah
Kalau ada satu aspek yang langsung mencuri perhatian sejak awal, itu adalah presentasi visualnya. Monster Hunter Stories 3 menggunakan RE Engine, dan perubahan ini memberikan peningkatan visual yang cukup signifikan dibandingkan game sebelumnya.
Game ini masih mempertahankan gaya visual stylized dan cel-shaded yang menjadi identitas Stories, tetapi kini dipadukan dengan fidelity yang jauh lebih tinggi.
Lingkungannya terasa lebih besar dan detail. Setiap area memiliki biome yang berbeda, dengan pemandangan luas serta pencahayaan yang membuat dunia terasa sangat artistik.
Kota-kotanya juga mendapatkan perhatian besar. Bagi kalian yang menyukai kota dalam JRPG, Stories 3 memiliki sejumlah lokasi yang cukup detail dan hidup untuk dieksplorasi.
Monster dan NPC juga terasa jauh lebih hidup berkat animasi yang lebih polished. Ditambah dengan cutscene yang dibuat secara cinematic, presentasi keseluruhan game terasa jauh lebih matang.
Performa yang Mengagumkan
Skala visual tersebut juga tidak membuat performanya terasa terbebani. Di Nintendo Switch 2, game ini berjalan di sekitar 30fps secara stabil. Sementara pada hardware yang lebih kuat seperti PlayStation 5 Pro, game dapat berjalan hingga 120fps dengan visual yang tetap tajam dan detail.
Versi PC juga terasa teroptimasi dengan baik. Dengan dunia yang luas dan penuh detail, game ini tetap dapat berjalan dengan lancar tanpa harus bergantung pada DLSS.
Transisi ke RE Engine terasa seperti investasi besar bagi proyek ini. Kualitas presentasi visualnya menjadi salah satu alasan mengapa Monster Hunter Stories 3 terasa seperti game dengan skala produksi yang jauh lebih besar dibandingkan pendahulunya.
Combat Turn-Based yang Tetap Mempertahankan Identitas Monster Hunter
Secara fundamental, Monster Hunter Stories 3 masih merupakan JRPG turn-based. Namun game ini tidak mencoba mengubah Monster Hunter menjadi JRPG biasa.
Sistem combat tetap mempertahankan mekanik rock-paper-scissors yang menjadi ciri khas Stories. Terdapat tiga tipe serangan utama: Power, Speed, dan Technical.
Power efektif melawan Technical, Technical mengalahkan Speed, sementara Speed unggul melawan Power.
Musuh biasanya memiliki pola serangan tertentu yang dapat dipelajari. Ketika pertarungan berlangsung, pola tersebut dapat berubah sehingga pemain harus terus membaca situasi dan memilih tipe serangan yang tepat ketika memasuki Head-to-Head.
Sistem tersebut terdengar sederhana, tetapi menjadi semakin menarik ketika dipadukan dengan berbagai kemampuan lain.
Kinship Gauge dan Partner Monstie
Setiap keputusan dalam pertarungan akan membantu mengisi Kinship Gauge. Ketika gauge tersebut cukup penuh, pemain dapat menggunakan berbagai kemampuan khusus dan menunggangi Monstie mereka.
Saat berada dalam mode riding, karakter mendapatkan sejumlah keuntungan seperti peningkatan pertahanan dan pemulihan health, sekaligus akses terhadap serangan ultimate. Serangan tersebut memiliki animasi yang cukup spektakuler dan bahkan dapat dipadukan dengan partner NPC.
Selain memilih tipe serangan, pemain juga dapat menargetkan bagian tubuh tertentu dari monster. Mematahkan bagian tubuh monster dapat memberikan keuntungan tertentu sekaligus membuka peluang untuk mengeksploitasi kelemahan mereka.
Hal ini membuat pertarungan tidak hanya sekadar memilih Power, Speed, atau Technical, tetapi juga memikirkan target, elemen, komposisi party, dan timing penggunaan skill.
Synchro Rush Belum Sepenuhnya Meyakinkan
Monster Hunter Stories 3 juga memperkenalkan mekanik baru bernama Synchro Rush. Ketika monster berada dalam kondisi topple, Rider dan Monstie dapat melakukan serangan koordinasi yang menghasilkan combo dengan damage cukup besar.
Namun, secara pribadi saya tidak terlalu sering menggunakan mekanik ini setelah memasuki pertengahan permainan. Dalam banyak situasi, kombinasi serangan biasa dengan strategi elemental terasa lebih konsisten dibandingkan Synchro Rush.
Mekanik ini tetap menjadi tambahan yang menarik, tetapi saya merasa potensinya belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh sistem combat secara keseluruhan.
Mudah Diakses, Tapi Boss Tetap Menantang
Stories 3 juga cukup ramah bagi pemain baru. Setiap encounter memberikan tiga hearts. Ketika HP karakter atau Monstie habis, pemain tidak langsung kalah. Sebaliknya, satu heart akan berkurang dan kalian masih memiliki kesempatan untuk melanjutkan pertarungan.
Namun hearts tersebut digunakan bersama antara Rider dan Monstie. Jadi ketika salah satu dari mereka tumbang, jumlah hearts tetap berkurang. Setelah menyelesaikan sebuah encounter, HP karakter juga akan kembali penuh.
Sistem tersebut membuat permainannya terasa lebih forgiving dan mengurangi attrition yang biasanya menjadi bagian dari JRPG klasik. Meski demikian, bukan berarti game ini kehilangan tantangannya.
Boss fight justru bisa memberikan tantangan yang cukup serius. Beberapa boss memiliki mekanik khusus yang memaksa pemain melakukan persiapan sebelum bertarung. Kalian harus mempertimbangkan elemen, komposisi Monstie, equipment, dan skill yang dibawa. Mengalahkan boss ketika berada dalam kondisi underlevel juga memberikan kepuasan tersendiri.
NPC Partner dan Sedikit Unsur RNG
Selama pertarungan, kalian tidak selalu bertarung sendirian. NPC allies akan ikut membantu dengan Monstie mereka sendiri. Namun terdapat satu kekurangan yang cukup terasa: pemain tidak dapat mengontrol NPC secara langsung. Artinya, keputusan mereka sepenuhnya dilakukan oleh AI.
Dalam pertarungan biasa, hal ini jarang menjadi masalah. Tetapi ketika menghadapi boss, keputusan NPC yang tidak dapat diprediksi terkadang menambahkan unsur RNG yang sebenarnya tidak selalu kita inginkan.
Kalian bisa saja sudah mempersiapkan komposisi party dengan matang, tetapi partner NPC melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan strategi yang sedang kalian jalankan. Karena itu, memilih partner dengan synergy yang sesuai menjadi bagian penting dari persiapan sebelum boss fight.
Sistem Equipment yang Lebih Sederhana
Monster Hunter Stories 3 masih mempertahankan sejumlah fondasi dari seri Monster Hunter utama, termasuk sistem elemen dan crafting. Material dari monster yang diburu dapat digunakan untuk membuat senjata serta armor baru.
Namun jangan berharap sistem build-nya sekompleks Monster Hunter utama. Armor di Stories 3 lebih berfokus pada peningkatan defense terhadap elemen tertentu, sementara passive skill yang melekat pada armor set memberikan bonus tambahan.
Sistem ini membuat optimasi build terasa lebih sederhana. Pemain masih dapat melakukan min-maxing, tetapi tidak harus memikirkan kombinasi skill serumit ketika membangun set armor di Monster Hunter utama.
Gem System Memberikan Fleksibilitas
Kustomisasi kemudian diperluas melalui Gem System. Gem dapat dipasang pada senjata maupun armor untuk memberikan efek tambahan, meningkatkan statistik, sekaligus memberikan skill tertentu.
Sistem ini pada dasarnya memiliki fungsi yang mirip dengan Decorations pada seri utama Monster Hunter. Gem dapat ditemukan ketika menjelajahi dunia atau dibeli melalui Meink Emporium.
Dengan adanya sistem ini, pemain tetap memiliki ruang untuk mengoptimalkan build sesuai kebutuhan tanpa harus menghadapi kompleksitas sistem equipment dari seri utama.
Monster Den yang Kini Lebih Menyenangkan
Salah satu mekanik klasik Monster Hunter Stories yang kembali adalah Monster Den. Pemain masih dapat memasuki sarang monster untuk mencari telur yang nantinya akan menetas menjadi Monstie. Namun kali ini, proses berburu telur terasa jauh lebih menyenangkan.
Capcom memperkenalkan sistem Habitat Restoration, yang memberikan tujuan lebih jelas terhadap aktivitas mencari telur. Pemain dapat mengumpulkan dan kemudian melepaskan Monstie tertentu kembali ke habitatnya untuk meningkatkan ecosystem rank sebuah area.
Semakin tinggi rank habitat, semakin besar kemungkinan pemain menemukan telur langka dari spesies monster tertentu. Pendekatan ini membuat pencarian Monstie kuat terasa lebih strategis dan tidak sepenuhnya bergantung pada RNG.
Bagi saya, sistem ini bahkan bisa membuat eksplorasi terasa sedikit adiktif. Setiap menemukan camp baru, ada dorongan untuk meningkatkan habitat hingga Rank S karena rank tersebut meningkatkan peluang mendapatkan Super Rare Egg.
Semakin langka telur yang ditemukan, semakin besar pula kemungkinan Monstie tersebut memiliki gene lebih banyak, kualitas gene lebih tinggi, serta lebih banyak gene slot yang terbuka.
Gene dan Bingo System
Perbedaan utama antara telur biasa dan telur langka sebenarnya terletak pada kualitas gene Monstie yang dihasilkan. Kalau kalian hanya ingin mendapatkan spesies monster tertentu, telur biasa sudah cukup.
Namun jika tujuan kalian adalah membangun Monstie dengan gene terbaik, telur kategori Highly Potent menjadi target utama. Setiap Monstie kemudian dapat dikembangkan melalui Bingo System.
Sistem ini menggunakan grid gene berukuran 3x3. Ketika tiga gene dengan elemen atau tipe yang sama tersusun secara horizontal, vertikal, maupun diagonal, pemain akan mendapatkan bonus statistik yang cukup signifikan. Di sinilah sisi monster-building Monster Hunter Stories 3 mulai terasa lebih dalam.
Kalian tidak hanya mencari Monstie dengan statistik bagus, tetapi juga memikirkan gene apa yang dimiliki dan bagaimana susunannya dapat dioptimalkan.
Rite of Channeling yang Lebih Bersahabat
Monster Hunter Stories 3 juga melakukan perubahan besar pada sistem Rite of Channeling. Kini pemain dapat menukar atau memindahkan gene tanpa harus mengorbankan Monstie sumbernya.
Perubahan ini sangat membantu proses eksperimen build. Pada game sebelumnya, mengutak-atik gene bisa terasa berisiko karena pemain harus mempertimbangkan Monstie mana yang akan dikorbankan.
Di Stories 3, proses tersebut menjadi jauh lebih nyaman. Kalian bisa bereksperimen dengan berbagai kombinasi tanpa terus merasa takut kehilangan Monstie yang sudah bagus. Hasil akhirnya adalah gameplay loop yang menurut saya jauh lebih sehat dibandingkan seri sebelumnya.
Grinding yang Tidak Terlalu Menyiksa
Salah satu hal yang paling saya apresiasi dari Monster Hunter Stories 3 adalah bagaimana game ini menangani grinding. Ketika mendapatkan Monstie baru, kalian tidak harus selalu menggunakannya dalam pertarungan agar mereka mendapatkan EXP.
Monstie yang berada di party tetap mendapatkan EXP dari encounter yang kalian selesaikan. Hal ini sangat membantu ketika ingin mencoba monster baru.
Kalian tidak perlu memaksakan Monstie yang masih lemah untuk melawan musuh hanya demi mengejar level. Cukup masukkan mereka ke dalam party dan EXP akan terus mengalir selama kalian bermain. Perubahan kecil seperti ini membuat proses membangun party terasa jauh lebih nyaman.
Monster Hunter Stories 3 Berhasil Menemukan Identitasnya Sendiri
Setelah sekitar 70 jam bermain, saya merasa Monster Hunter Stories 3 berhasil melakukan sesuatu yang tidak mudah. Game ini dapat menjadi open-world JRPG yang luas, JRPG dengan sistem gameplay yang dalam, sekaligus game Monster Hunter yang tetap mempertahankan identitas franchise-nya.
Combat-nya menuntut pemain untuk membaca pola musuh dan memilih strategi yang tepat. Sistem Monstie memberikan ruang besar untuk eksperimen. Sementara Habitat Restoration, Bingo System, dan Rite of Channeling membuat aktivitas membangun monster terasa jauh lebih menyenangkan.
Yang paling penting, semua sistem tersebut tidak terasa seperti kumpulan fitur yang berdiri sendiri. Mereka saling mendukung gameplay loop utama. Kalian mengeksplorasi dunia, menemukan monster, mencari telur, mendapatkan Monstie baru, mengembangkan gene mereka, membuat equipment, kemudian menguji build tersebut dalam pertarungan yang semakin sulit. Dan siklus tersebut berhasil membuat saya terus bermain hingga 70 jam tanpa merasa bosan.
Kesimpulan
Monster Hunter Stories 3: Twisted Reflection menjadi kejutan terbesar bagi saya di antara seluruh seri Stories.
Saya datang sebagai seseorang yang sebelumnya kurang cocok dengan formula Monster Hunter Stories, terutama karena gameplay loop pada game sebelumnya terasa repetitif. Namun Stories 3 berhasil memperbaiki banyak hal yang sebelumnya menjadi masalah.
Cerita dan karakterisasinya jauh lebih kuat. Presentasi visualnya mengalami peningkatan besar berkat RE Engine. Combat tetap sederhana untuk dipahami, tetapi memiliki kedalaman yang cukup ketika pemain mulai mengeksplorasi build dan strategi.
Sistem Monstie juga menjadi salah satu daya tarik terbesar. Habitat Restoration membuat pencarian telur terasa lebih terarah, sementara Bingo System dan Rite of Channeling memberikan ruang eksperimen yang luas tanpa membuat prosesnya terasa melelahkan.
Memang masih ada beberapa kekurangan. NPC partner yang tidak dapat dikontrol secara langsung terkadang membuat pertarungan terlalu bergantung pada keputusan AI dan menambahkan unsur RNG yang tidak selalu menyenangkan. Synchro Rush juga belum terasa sebagai mekanik yang benar-benar wajib digunakan.
Namun bagi saya, kekurangan tersebut tidak mampu menutupi kualitas keseluruhan game. Monster Hunter Stories 3: Twisted Reflection adalah game yang berhasil membuat saya jatuh cinta pada sebuah seri yang sebelumnya tidak terlalu saya sukai.
Dengan durasi sekitar 70 jam untuk menyelesaikan permainan dan masih banyak konten yang bisa dieksplorasi setelah tamat, game ini juga memiliki replayability yang sangat besar bagi kalian yang ingin mengoptimalkan Monstie dan mencoba berbagai build.
Monster Hunter Stories 3: Twisted Reflection mendapatkan skor 9.5/10 dari DirektoriGim.
Follow DirektoriGim agar selalu update dengan berita terkini di industri video game!
#gaming #monsterhunter #monsterhunterstories3




















