Setelah hampir 20 tahun menghilang dari industri game, Capcom akhirnya kembali membawa salah satu franchise klasiknya melalui Onimusha: Way of the Sword. Game ini hadir sebagai sebuah reboot yang memperkenalkan cerita, dunia, serta karakter baru, dengan Miyamoto Musashi sebagai protagonis utama.
Setelah menyelesaikan game ini dalam waktu sekitar 40 jam, saya cukup yakin bahwa Way of the Sword bukan sekadar upaya Capcom untuk menghidupkan kembali franchise lama. Game ini terasa seperti fondasi baru yang sengaja dibangun untuk membawa Onimusha kembali ke generasi modern.
Onimusha Dengan Miyamoto Musashi
Onimusha: Way of the Sword membawa kita ke era Jepang yang dipenuhi oleh konflik antara manusia dan Genma. Kali ini, pemain mengambil peran sebagai Miyamoto Musashi, seorang samurai legendaris yang sedang menjalani perjalanan untuk mencari kekuatan dan jati dirinya.
Cerita dibuka dengan pertarungan Musashi melawan Yoshioka Seijuro. Adegan pembukanya langsung terasa seperti film samurai Jepang klasik, sesuatu yang memang menjadi salah satu identitas kuat game ini.
Hal tersebut semakin terasa berkat penggunaan wajah aktor legendaris Toshiro Mifune sebagai face model Miyamoto Musashi. Mifune sendiri dikenal melalui berbagai film samurai klasik seperti Seven Samurai, sekaligus pernah memerankan Miyamoto Musashi dalam trilogi film Samurai.
Keputusan tersebut terasa sangat tepat. Secara visual, Musashi memang terlihat seperti karakter yang seharusnya keluar dari film samurai klasik dan kemudian ditempatkan ke dalam sebuah game modern.
Setelah pertarungan pembuka, Musashi kemudian menghadapi situasi yang jauh lebih besar dari sekadar duel antarsamurai. Ia terbunuh dan menemukan dirinya berada di neraka, sebelum akhirnya dipaksa menggunakan Oni Gauntlet.
Dari sinilah Musashi menjadi seorang Onimusha dan mendapatkan kemampuan untuk menghadapi Genma.
Perjalanan kemudian membawanya menuju Kyoto, tempat ia bertemu dengan Takamura dan Okuni. Takamura bertugas menjaga sebuah pintu menuju neraka agar tidak terbuka, tetapi munculnya retakan misterius di berbagai tempat membuat situasi menjadi semakin berbahaya.
Musashi kemudian terlibat dalam perjalanan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Kyoto sekaligus mencari cara untuk melepaskan dirinya dari Oni Gauntlet.
Cerita yang Berhasil Membangun Rasa Penasaran
Saya cukup terkejut dengan kualitas cerita Onimusha: Way of the Sword. Ekspektasi saya terhadap cerita game ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Namun setelah menyelesaikannya, saya justru merasa penasaran dengan dunia yang dibangun Capcom.
Game ini cukup pintar dalam memberikan informasi secara bertahap. Kita dibuat bertanya-tanya mengenai asal-usul Genma, alasan Kyoto dipenuhi makhluk tersebut, fenomena misterius yang terjadi di berbagai lokasi, hingga hubungan antara dunia manusia dengan dunia Oni.
Karakterisasi juga menjadi salah satu kekuatan utamanya. Miyamoto Musashi tidak langsung digambarkan sebagai seorang samurai sempurna. Di awal permainan, dirinya masih berada dalam fase mencari kekuatan dan jati diri. Perjalanannya kemudian perlahan membentuk karakter Musashi sekaligus memperlihatkan konflik antara keinginan mendapatkan kekuatan dengan risiko terjerumus ke dalam kegelapan.
Takamura berfungsi sebagai mentor yang membantu Musashi memahami dunia yang baru saja ia masuki. Sementara itu, Okuni ternyata memiliki cerita dan karakterisasi yang jauh lebih menarik daripada yang saya perkirakan.
Kemudian ada Shizuka, seorang ratu Oni yang secara misterius berada di dalam Oni Gauntlet milik Musashi. Keberadaan Shizuka menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan cerita sekaligus memberikan bobot emosional tersendiri.
Game ini juga memiliki sejumlah antagonis yang cukup mengejutkan. Sasaki Ganryu memang menjadi rival penting Musashi, tetapi ia bukan satu-satunya ancaman terbesar dalam ceritanya.
Tanpa masuk ke wilayah spoiler, Capcom memperkenalkan antagonis baru yang benar-benar tidak saya duga sebelumnya. Bahkan, karakter tersebut mungkin menjadi salah satu antagonis paling kejam yang pernah saya temui dalam game.
Capcom benar-benar tidak menahan diri dalam menggambarkan sisi gelap karakter tersebut.
Main Story Kuat, Side Quest Kurang Berkesan
Kualitas penulisan tersebut sayangnya tidak selalu diterapkan pada konten sampingan. Salah satu contoh terbaik justru berasal dari main story. Dalam sebuah rangkaian misi, kita diperlihatkan sebuah kuil yang tampak jauh lebih cerah dibandingkan area di sekitarnya. Berbagai kejadian aneh mulai bermunculan, mulai dari seseorang yang berdoa agar penyakitnya sembuh hingga seseorang yang terlihat bahagia meskipun mengalami mutilasi.
Semua detail tersebut awalnya terasa seperti kumpulan kejadian aneh yang tidak berhubungan. Namun ketika Musashi akhirnya kembali berinteraksi dengan lokasi tersebut melalui sebuah misi utama, berbagai kejadian sebelumnya mulai mendapatkan konteks. Apa yang awalnya terlihat seperti tempat suci ternyata menyimpan sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Build-up seperti ini adalah salah satu contoh bagaimana Onimusha mampu membuat eksplorasi cerita terasa rewarding.
Sayangnya, kualitas tersebut jarang ditemukan dalam side quest.
Sebagian besar side quest pada akhirnya hanya meminta pemain pergi ke suatu lokasi, mengalahkan sejumlah Genma, mengambil item, atau menyelesaikan fetch quest untuk mendapatkan material dan upgrade.
Karena Way of the Sword juga memiliki area semi-open-world di sekitar Kyoto, pemain bisa melakukan backtracking untuk mencari collectible, item, Oni Portal, dan material upgrade. Konsep eksplorasinya sendiri sebenarnya tidak buruk. Masalahnya adalah konten yang mengisi dunia tersebut terasa terlalu generik.
Bagi saya, side quest di game ini terasa seperti tambahan untuk memperpanjang eksplorasi daripada sesuatu yang benar-benar memperkaya dunia atau cerita utama.
Untungnya, kalian tidak diwajibkan menyelesaikan seluruh side quest untuk menikmati permainan. Saya sendiri tidak menyelesaikan seluruh konten sampingannya, tetapi tetap bisa menamatkan game dengan cukup nyaman.
Combat yang Menjadi Bintang Utama
Kalau ada satu alasan mengapa Onimusha: Way of the Sword terasa begitu menyenangkan untuk dimainkan, jawabannya adalah combat.
Secara permukaan, combat game ini memang terlihat sederhana. Senjata utama Musashi adalah pedang, sementara kombinasi serangannya tidak sebanyak game action lain seperti Devil May Cry. Namun Capcom mengimbanginya dengan sistem pertahanan yang sangat menekankan timing.
Ada empat mekanik utama yang akan terus kalian gunakan sepanjang permainannya:
Parry, Dodge, Deflect, dan Issen.
Parry merupakan mekanik yang paling mudah digunakan. Timing-nya cukup forgiving dan dapat menjadi cara aman untuk menghentikan serangan musuh.
Dodge memberikan kesempatan untuk menghindari serangan sekaligus membuka ruang untuk melakukan serangan balik.
Kemudian ada Deflect. Mekanik ini memiliki timing yang lebih pendek dibandingkan parry, tetapi memberikan stamina damage yang lebih besar. Menariknya, kalian tidak perlu melakukan input dengan timing satu frame. Tombol dapat ditahan sebentar ketika musuh mulai menunjukkan tanda-tanda akan menyerang.
Namun bintang utamanya tentu saja adalah Issen. Issen merupakan mekanik high risk, high reward yang menjadi salah satu alasan saya begitu ketagihan memainkan game ini.
Ketika musuh menyerang, beberapa serangan akan memberikan indikasi visual tertentu. Jika kalian melakukan serangan pada timing yang sangat tepat sebelum serangan musuh mengenai Musashi, kalian dapat melakukan Issen.
Selain memberikan damage besar, Issen juga memberikan stamina damage yang signifikan. Ketika stamina musuh habis, kalian dapat melakukan semacam execution move bernama break Issen, yang memberikan damage tambahan berdasarkan bagian tubuh yang menjadi target.
Sistem ini kemudian membuat pemain harus memperhatikan bagaimana mereka menghadapi setiap musuh.
Ada bagian tubuh tertentu yang dapat memberikan Soul, sementara bagian lainnya dapat memberikan damage. Dengan demikian, pemain memiliki pilihan mengenai bagaimana mereka ingin membongkar pertahanan musuhnya. Semakin dikuasai, combat Onimusha: Way of the Sword terasa semakin dalam.
Musuh Biasa Justru Menjadi Kelemahan
Sayangnya, sistem combat yang begitu bagus tidak selalu didukung oleh desain musuh biasa yang sama kuatnya. Sebagian besar Genma yang kalian lawan terasa seperti sumber Soul untuk Oni Gauntlet. Bahkan pada tingkat kesulitan Hard, sebagian musuh biasa terasa kurang agresif.
Masalahnya bukan selalu pada damage atau health mereka, melainkan bagaimana mereka menyerang. Serangan musuh sering kali memiliki jeda yang cukup panjang sehingga pemain dapat dengan mudah mengantisipasinya. Hal tersebut terasa sedikit bertolak belakang dengan mekanik seperti Issen yang sebenarnya dirancang untuk menguji kemampuan membaca serangan lawan.
Ketika dikelilingi banyak musuh pun, situasinya tidak selalu terasa berbahaya karena sebagian besar musuh tidak menyerang secara bersamaan dengan agresif. Saya memahami bahwa Capcom mungkin ingin mempertahankan gaya swordplay yang lebih terkontrol dan membuat game ini tetap mudah diakses pemain baru.
Apalagi tersedia Story Mode untuk pemain yang memang tidak ingin berhadapan dengan tingkat kesulitan tinggi. Namun karena yang kita lawan adalah Genma, saya sebenarnya berharap mereka bisa dibuat jauh lebih brutal.
Untungnya, masalah ini lebih banyak terasa pada musuh biasa. Mini-boss dan boss utama justru memberikan tantangan yang jauh lebih memuaskan.
Boss Fight yang Memorable
Boss fight menjadi salah satu highlight terbesar Onimusha: Way of the Sword.
Ada cukup banyak boss yang akan kalian hadapi sepanjang permainan dan masing-masing memberikan tantangan yang jauh lebih menarik dibandingkan musuh biasa. Pertarungan tersebut juga bisa dimainkan kembali melalui sebuah hub khusus setelah kalian menyelesaikannya.
Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa combat game ini terasa cocok untuk replayability. Setelah memahami pattern boss dan mulai menguasai Issen, parry, deflect, serta dodge, pertarungan yang awalnya terasa sulit bisa berubah menjadi pertarungan yang sangat memuaskan.
Ada sensasi tersendiri ketika kalian berhasil membaca serangan boss, melakukan Issen pada timing yang tepat, kemudian melihat health dan stamina mereka langsung terkuras.
Satu Senjata Utama, Tapi Terasa Terfokus
Berbeda dari banyak game action modern, Musashi hanya memiliki satu senjata utama, yaitu pedangnya. Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut.
Justru karena Capcom hanya berfokus pada satu senjata utama, mekanik combat-nya terasa jauh lebih terarah.
Memang terdapat beberapa senjata dan kemampuan tambahan yang bisa dibuka, tetapi sebagian besar berfungsi sebagai alat untuk memberikan damage tertentu, menguras stamina, atau memberikan kemampuan tambahan. Bow dan Oni Gauntlet misalnya, tidak menggantikan pedang sebagai senjata utama Musashi.
Keputusan tersebut menurut saya membuat identitas combat Way of the Sword menjadi lebih jelas.
Visual RE Engine yang Lebih Hidup
Secara visual, Onimusha: Way of the Sword menggunakan RE Engine, teknologi yang selama beberapa tahun terakhir sudah menjadi fondasi berbagai game Capcom.
Jika berbicara mengenai kualitas grafis secara keseluruhan, saya tidak merasa Way of the Sword memberikan lompatan yang sangat besar dibandingkan game-game Capcom lain yang juga menggunakan RE Engine.
Environment, lighting, texture, dan kualitas aset secara umum memang terlihat bagus, tetapi sebagian besar masih terasa familiar jika kalian sudah memainkan berbagai game RE Engine sebelumnya.
Namun ada satu aspek yang menurut saya meningkat drastis, yaitu motion capture dan facial animation.
Kualitas gerakan karakter di game ini terasa jauh lebih natural. Gerakan tubuh, ekspresi wajah, gestur ketika berbicara, hingga interaksi antarkarakter terasa lebih hidup dibandingkan beberapa game Capcom sebelumnya. Dalam beberapa cutscene, saya bahkan sempat lupa bahwa yang sedang saya lihat adalah sebuah video game.
Penggunaan face model Toshiro Mifune pada Musashi juga semakin memperkuat kesan tersebut. Wajah Musashi memiliki karakter yang sangat kuat dan ketika dikombinasikan dengan facial animation serta motion capture yang lebih baik, karakter ini terasa seperti aktor yang sedang memerankan seorang samurai, bukan sekadar model 3D yang sedang memainkan animasi.
Jadi meskipun saya tidak akan menyebut Way of the Sword sebagai game dengan grafis paling impresif yang pernah dibuat Capcom menggunakan RE Engine, kualitas presentasi karakternya mengalami peningkatan yang sangat terasa.
Dan untuk game yang begitu bergantung pada karakterisasi serta nuansa film samurai klasik, peningkatan tersebut menjadi sangat penting.
Kesimpulan
Onimusha: Way of the Sword merupakan salah satu comeback terbaik Capcom dalam beberapa tahun terakhir. Game ini memang tidak sempurna. Side quest-nya terasa repetitif, eksplorasi open-world-nya kurang memberikan alasan kuat untuk ditelusuri, dan desain musuh biasa belum mampu mengimbangi kualitas combat yang sebenarnya sangat solid.
Namun ketika semua elemen terbaiknya mulai bersatu, Way of the Sword berhasil memberikan pengalaman yang sangat memuaskan.
Cerita utamanya ditulis dengan baik dan memiliki world-building yang membuat saya penasaran untuk mengetahui apa yang terjadi selanjutnya. Karakter seperti Musashi, Takamura, Okuni, dan Shizuka juga mendapatkan porsi yang cukup untuk membuat perjalanan mereka terasa berarti.
Higlight utama untuk game ini, tentu ada di combatnya. Parry, dodge, deflect, dan terutama Issen membuat sistem pertarungannya terasa sederhana di permukaan tetapi memiliki kedalaman ketika benar-benar dikuasai. Boss fight yang memorable semakin memperkuat pengalaman tersebut.
Bahkan setelah menamatkan game ini, saya masih kembali memainkan mode Carnage dan Hard. Bagi saya, hal tersebut sudah menjadi bukti bahwa combat Onimusha: Way of the Sword memang memiliki kualitas replayability yang kuat.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, saya memberikan 9/10 untuk Onimusha: Way of the Sword. Capcom berhasil menghidupkan kembali Onimusha dengan identitas yang masih terasa familiar, tetapi cukup modern untuk generasi sekarang.
Dan melihat bagaimana game ini mengakhiri ceritanya, saya pribadi semakin penasaran dengan apa yang sedang disiapkan Capcom untuk masa depan franchise ini.
Kalau Way of the Sword memang menjadi awal dari era baru Onimusha, saya tidak keberatan sama sekali untuk kembali menjadi Onimusha di game berikutnya.
Bagaimana menurut kalian? Jangan lupa follow DirektoriGim agar selalu update dengan berita terkini di industri video game!



















