Capcom memberikan kesempatan kepada DirektoriGim untuk memainkan Resident Evil Requiem lebih awal melalui review copy pada 26 Februari. Terima kasih kami sampaikan kepada tim Capcom SEA yang telah memberikan kesempatan tersebut.
Review ini dibuat berdasarkan pengalaman bermain penuh Resident Evil Requiem, dengan footage video yang hanya menampilkan bagian awal permainan di Rhodes Hill Clinic Center untuk menjaga pengalaman kalian dari spoiler besar. Sesuai dengan guideline Capcom, versi video dari review ini juga dibatasi maksimal 10 menit.
Setelah menyelesaikan game ini, saya bisa mengatakan bahwa Resident Evil Requiem adalah salah satu game Resident Evil terbaik yang pernah saya mainkan. Bahkan menurut saya, kualitasnya berada jauh di atas beberapa seri pendahulunya dan mampu berdiri sejajar dengan game klasik seperti Resident Evil 2 dan Resident Evil 4.
Yang membuatnya terasa spesial adalah bagaimana Capcom berhasil menggabungkan berbagai elemen yang selama ini menjadi identitas Resident Evil ke dalam satu game. Survival horror ala seri klasik, action set-piece dengan skala besar, desain level yang mendukung eksplorasi, hingga berbagai pendekatan gameplay yang pernah digunakan franchise ini semuanya terasa seperti dikumpulkan dan diracik kembali di Resident Evil Requiem.
Game ini terasa seperti akumulasi dari hampir 30 tahun perjalanan Resident Evil.
Cerita yang Lebih Matang dan Personal
Resident Evil Requiem mengambil latar pada Oktober 2026, tepat 28 tahun setelah kehancuran Raccoon City yang menjadi latar utama Resident Evil 3: Nemesis.
Cerita kali ini berfokus pada Grace Ashcroft, seorang analis intelijen FBI yang ditugaskan untuk menyelidiki kematian misterius sejumlah penyintas Raccoon City. Kasus tersebut perlahan mengarah pada indikasi infeksi T-Virus yang kembali muncul.
Tentu saja, Resident Evil Requiem juga membawa kembali salah satu karakter paling ikonik dalam franchise ini, Leon S. Kennedy.
Sejak trailer, sudah terlihat bahwa kondisi Leon kali ini berbeda. Ada sesuatu yang terasa tidak beres dengannya. Leon seolah membawa beban dari masa lalu, atau mungkin sedang menghadapi sesuatu yang nantinya menjadi bagian penting dari konflik utama.
Saya tidak ingin membahas terlalu jauh mengenai ceritanya karena Resident Evil selalu menjadikan misteri dan narasi sebagai bagian penting dari pengalaman bermain. Namun, setelah menyelesaikannya, saya cukup terkesan dengan bagaimana cerita Requiem ditulis.
Penulisannya terasa jauh lebih matang. Ada nuansa thriller serius yang cukup kuat, dan Grace sendiri, berhasil menjadi protagonis baru yang mudah untuk diikuti. Grace tidak ditulis sebagai karakter yang terlalu campy atau berlebihan. Motivasi dan konflik batinnya dibangun secara bertahap sehingga kita bisa memahami alasan di balik setiap keputusan yang dia ambil.
Leon juga mendapatkan porsi cerita yang sangat solid. Bagi penggemar Leon, Resident Evil Requiem memberikan salah satu portrayal terbaik yang pernah diterima karakter ini. Ada sisi rapuh, heroik, dan manusiawi yang semuanya diberikan dalam porsi yang tepat.
Penyajian yang Terasa Seperti Film Thriller
Salah satu aspek yang paling saya sukai dari Resident Evil Requiem adalah bagaimana Capcom menyajikan ceritanya. Game ini terasa sangat cinematic. Komposisi shot, framing kamera, hingga transisi antaradegan terasa seperti sebuah film thriller yang serius.
Hal tersebut juga tidak hanya diterapkan pada cutscene. Level design-nya ikut mendukung cara game ini membingkai setiap adegan. Ketika kamera kembali dikendalikan oleh pemain, atmosfer yang sudah dibangun melalui cutscene tetap terasa konsisten.
Pacing-nya juga menjadi salah satu kekuatan terbesar.
Saya menyelesaikan Resident Evil Requiem dalam waktu sekitar delapan jam dan hampir tidak menemukan bagian yang terasa dragging. Setiap bagian terasa memiliki tujuan dan game ini terus memberikan sesuatu yang baru untuk dinikmati.
Dengan durasi tersebut, saya justru merasa Resident Evil Requiem memiliki replayability yang cukup besar. Saya sendiri masih ingin kembali memainkan game ini, terutama di tingkat kesulitan yang lebih tinggi.
Dua Sisi Resident Evil dalam Satu Game
Resident Evil Requiem membagi pengalaman gameplay menjadi dua bagian besar melalui Grace dan Leon. Keduanya memiliki pendekatan yang sangat berbeda, tetapi justru di situlah salah satu kekuatan game ini.
Grace dan Survival Horror yang Mencekam
Porsi Grace sangat mengingatkan saya pada Resident Evil 2 dan Resident Evil 7. Fokus utamanya adalah survival horror, eksplorasi, resource management, serta bagaimana pemain menghadapi musuh dengan sumber daya yang terbatas.
Namun, Resident Evil Requiem memberikan pendekatan berbeda terhadap musuh dibandingkan Resident Evil 2. Musuh dapat dibuat stun dengan menembak bagian tubuh tertentu, terutama kepala atau kaki. Mekanik ini membuat pemain bisa mencari celah untuk melewati musuh tanpa harus menghabiskan seluruh resource untuk membunuhnya.
Yang membuatnya semakin menarik adalah desain zombie di dalam gamenya. Ada zombie yang berprofesi sebagai chef, ada zombie yang memiliki kebiasaan mematikan lampu, hingga zombie yang bereaksi terhadap suara tertentu. Karakteristik setiap zombie tersebut secara langsung memengaruhi bagaimana kita harus menghadapi mereka.
Menurut saya, ini adalah salah satu ide paling pintar dalam desain gameplay Resident Evil Requiem. Musuh tidak lagi hanya berfungsi sebagai target yang harus ditembak. Mereka menjadi bagian dari puzzle dan level design itu sendiri.
Grace juga memiliki sistem crafting yang cukup unik. Untuk membuat berbagai item, pemain perlu mengumpulkan darah yang kemudian digunakan sebagai material. Hal ini membuat eksplorasi menjadi semakin penting.
Sebagai pemain yang senang memeriksa setiap sudut ruangan dan mencari berbagai resource tersembunyi, saya sangat puas dengan bagaimana Resident Evil Requiem memberikan reward kepada pemain yang mau mengeksplorasi.
First Person Membuat Grace Jauh Lebih Menyeramkan
Capcom sebelumnya memang sudah mengatakan bahwa porsi Grace cocok dimainkan menggunakan perspektif first person, dan setelah mencobanya sendiri saya cukup setuju.
Bagian Grace sering kali berlangsung di area yang sempit. Dengan perspektif first person, pandangan pemain menjadi jauh lebih terbatas dibandingkan ketika menggunakan third person. Akibatnya, kita harus lebih mengandalkan suara.
Footstep musuh menjadi sangat penting. Saya bahkan beberapa kali harus memperbesar volume suara agar bisa mengetahui posisi musuh sebelum berani keluar dari sebuah ruangan. Kita juga harus mengintip dari sudut ruangan dan menentukan pendekatan sebelum bergerak. Berlari secara sembarangan sering kali bukan pilihan yang tepat.
Untungnya, Grace tetap memiliki beberapa cara untuk mengendalikan situasi. Ia dapat mengalihkan perhatian musuh menggunakan gelas kaca atau melakukan takedown dengan suntikan khusus yang harus dibuat melalui crafting.
Pendekatan ini membuat Grace terasa seperti karakter yang benar-benar sedang berusaha bertahan hidup, bukan seorang action hero.
Leon Adalah Sesi Pelepas Ketegangan
Setelah melewati bagian Grace yang penuh tekanan, permainan kemudian memberikan Leon sebagai semacam refreshment.
Kalau kalian termasuk pemain yang cukup penakut ketika bermain sebagai Grace, bagian Leon mungkin akan terasa seperti hadiah. Leon kali ini dibekali hatchet yang dapat digunakan untuk menyerang sekaligus melakukan parry. Senjata tersebut juga bisa diasah sehingga tidak mengalami masalah durability seperti senjata biasa.
Selain itu, Leon juga dapat menggunakan chainsaw untuk menghadapi musuh. Perubahan tempo ini terasa sangat menyenangkan. Setelah sebelumnya kita harus berhati-hati menghindari zombie sebagai Grace, tiba-tiba kita kembali ke lokasi yang sama sebagai Leon dan bisa membantai sisa-sisa zombie yang sebelumnya mengejar Grace.
Gameplay Leon terasa seperti Resident Evil 4 Remake yang diberikan dosis action jauh lebih besar. Pada titik tertentu, Leon juga bisa mendapatkan poin dari membunuh musuh. Poin tersebut kemudian dapat digunakan untuk mendapatkan berbagai item, senjata, maupun peningkatan lainnya.
Perbedaan gameplay antara Grace dan Leon membuat Resident Evil Requiem tidak terasa monoton meskipun keduanya berada dalam satu game yang sama.
Boss Fight yang Kreatif
Seperti game Resident Evil lainnya, Resident Evil Requiem juga menghadirkan sejumlah boss fight. Menurut saya, hampir setiap boss fight dirancang dengan sangat kreatif.
Salah satu contohnya adalah B.O.W. yang dapat mengeluarkan spora ketika weak point-nya diserang. Spora tersebut kemudian dapat memengaruhi zombie biasa dan mengubahnya menjadi Blisterhead Zombie.
Hal seperti ini membuat pertarungan terasa lebih dinamis. Setiap boss fight juga memiliki arena yang berfungsi seperti sebuah playground. Area tersebut dapat dimanfaatkan pemain untuk mencari posisi terbaik, sementara resource yang tersedia juga disesuaikan dengan encounter yang sedang berlangsung.
Hasilnya, setiap pertarungan memiliki karakteristik tersendiri dan tidak terasa seperti sekadar mengulang pola yang sama. Dan tentu saja, beberapa encounter paling menarik dalam game ini masih sengaja tidak saya bahas di sini.
Visual yang Gore dan Tanpa Kompromi
Resident Evil Requiem kembali menggunakan RE Engine dan secara visual berhasil mempertahankan standar tinggi yang sudah menjadi ciri khas franchise ini.
Game ini juga cukup berani dalam menampilkan visual yang gore dan sadis. Tidak sedikit adegan yang benar-benar menunjukkan kekerasan secara eksplisit tanpa terasa terlalu disensor. Namun, salah satu hal yang paling saya apresiasi adalah bagaimana visual tersebut digunakan untuk mendukung atmosfer horror.
Pencahayaan, lingkungan, desain musuh, serta efek visual membuat berbagai lokasi terasa semakin tidak nyaman untuk dijelajahi, terutama ketika bermain sebagai Grace menggunakan perspektif first person.
Performa PC yang Sangat Baik
Resident Evil Requiem juga memberikan performa yang cukup mengesankan di PC.
Salah satu alasannya mungkin karena game ini memiliki struktur yang lebih linear dibandingkan beberapa game modern lainnya. Hasilnya, performanya terasa sangat stabil.
Saya bahkan memainkan game ini menggunakan laptop dengan RTX 2060 dan masih bisa mendapatkan sekitar 60 FPS tanpa frame generation, menggunakan pengaturan custom medium.
Untuk pengguna GPU RTX 50 Series, Resident Evil Requiem juga mendukung path tracing yang membuat pencahayaan serta lingkungan terlihat semakin realistis.
Meski begitu, beberapa teman saya sempat mengalami penurunan performa setelah melakukan update driver. Karena itu, untuk sementara saya menyarankan pengguna GPU NVIDIA untuk tidak buru-buru melakukan update driver jika game kalian sudah berjalan dengan baik.
Resident Evil Requiem Lebih Cocok untuk Fans Lama
Meskipun sang director mengatakan Resident Evil Requiem dibuat agar tetap bisa dinikmati oleh pemain baru, menurut saya pemain yang sudah mengikuti franchise ini akan mendapatkan pengalaman yang jauh lebih spesial.
Resident Evil Requiem terasa seperti sebuah perayaan terhadap berbagai era Resident Evil. Game ini mengambil elemen survival horror dari seri klasik, pendekatan action dari game-game modern, serta berbagai konsep yang sudah dikembangkan Capcom selama bertahun-tahun.
Karena itu, saya sangat menyarankan pemain baru setidaknya memainkan Resident Evil 2 Remake atau Resident Evil 4 Remake terlebih dahulu sebelum masuk ke Requiem.
Bukan karena game ini tidak bisa dimainkan oleh newcomer, tetapi karena memahami perjalanan franchise ini akan membuat banyak hal di Requiem terasa jauh lebih berarti.
Resident Evil Requiem Adalah Akumulasi Terbaik Capcom
Resident Evil Requiem adalah game yang membuat saya cukup sulit untuk mencari banyak alasan untuk mengkritiknya. Pacing-nya sangat solid. Porsi Grace memberikan pengalaman survival horror yang menegangkan dan mendorong eksplorasi, sementara Leon memberikan perubahan tempo melalui gameplay action yang jauh lebih agresif.
Cerita dan karakterisasi Grace serta Leon juga berhasil menjadi salah satu bagian terbaik dari game ini. Keduanya memiliki karakterisasi yang kuat dan konflik personal yang membuat perjalanan mereka terasa berarti.
Yang paling saya suka adalah bagaimana Capcom berhasil menyatukan berbagai wajah Resident Evil ke dalam satu pengalaman tanpa membuatnya terasa seperti kumpulan mekanik yang dipaksakan. Ada Resident Evil klasik. Ada Resident Evil 2. Ada Resident Evil 4. Bahkan ada sedikit rasa dari era Resident Evil yang lebih action.
Semuanya terasa seperti akumulasi dari perjalanan franchise ini selama hampir tiga dekade. Saya juga merasa bagaimana Capcom membangun Grace dan Leon di game ini bisa menjadi prototype yang sangat menarik apabila mereka suatu hari nanti ingin membuat remake Resident Evil Code: Veronica.
Setelah sekitar delapan jam bermain, saya justru masih ingin kembali ke dalam game ini dan mencoba tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Bagi saya, Resident Evil Requiem adalah game Resident Evil modern terbaik yang pernah dibuat.
Skor: 10/10
Resident Evil Requiem menjadi game pertama yang mendapatkan rating sempurna 10/10 di DirektoriGim tahun ini. Pengalaman bermain sebagai Grace secara blind benar-benar membuat saya beberapa kali senam jantung, tetapi rasa takut tersebut justru membuat saya semakin penasaran untuk mengeksplorasi setiap sudut dunia yang diberikan Capcom.
Pada akhirnya, Resident Evil Requiem terasa seperti perayaan sekaligus rangkuman dari apa yang membuat franchise ini begitu dicintai selama hampir 30 tahun.
Dan untuk pertama kalinya setelah cukup lama mengikuti perjalanan Resident Evil, saya merasa Capcom benar-benar berhasil menggabungkan hampir semua elemen terbaik franchise ini ke dalam satu game.
Follow DirektoriGim agar selalu update dengan berita terkini di industri video game!
#gaming #residentevil #residentevilrequiem #direktorigim












