Shuhei Yoshida Ungkap Masa Lalu PlayStation Pada Saat Menangani Demon's Souls di PS3
Welp, cerita satu ini agak cukup menarik mengingat Demon's Souls sendiri sempat sampai ke ATLUS dan Bandai Namco untuk versi western nya.
Berdasarkan livestream CEDEC 2026 yang diterjemahkan oleh Genki_JPN, mantan Presiden Sony Interactive Entertainment Worldwide Studios, Shuhei Yoshida, membagikan kisah masa lalu mengenai kesalahan sekaligus sebuah pelajaran saat PlayStation menangani proyek Demon’s Souls bersama FromSoftware pada era PS3.
Yoshida bercerita bahwa pada saat itu dirinya baru saja kembali ke Jepang setelah bertugas di Amerika Serikat. Dia mendapat kesempatan untuk mencoba game yang sudah hampir selesai dikembangkan tersebut di kantornya.
Selama dua jam bermain, dia terus mati dan terpaksa mengulang dari awal sehingga terjebak pada area pertama. Yoshida langsung berpikir kalau tingkat kesulitannya sangat tinggi dan sempat memastikan hal tersebut kepada tim Quality Assurance (QA).
Kondisi ini membuat ekspektasi internal Sony menjelang jadwal rilisnya menjadi sangat rendah. Situasinya semakin diperburuk oleh ulasan dari majalah Famitsu pada saat itu yang tidak memberikan nilai tinggi, sehingga angka distribusi awalnya sangat sedikit.
Masalahnya semakin rumit karena cabang penerbitan internasional PlayStation di Amerika, Jepang, dan Eropa masih beroperasi secara independen.
Dan ketika keraguan terhadap kualitas gamenya menyebar luas di dalam internal Sony, cabang Amerika dan Eropa pun memutuskan untuk melewatkan kesempatan tersebut dan menolak untuk menerbitkannya pada wilayah mereka.
Namun setelah Demon’s Souls rilis di Jepang, komunitas mulai ramai memperbincangkannya pada berbagai forum internet seperti 2chan.
Banyak fans yang memuji bahwa mekanik di dalamnya sangat menyenangkan dan menganggapnya sebagai game god-tier. Reputasinya pun terus meningkat, sampai akhirnya Atlus mengambil alih hak penerbitannya untuk wilayah Amerika dan Bandai Namco menerbitkannya di Eropa, yang berujung sukses.
Saat FromSoftware bersiap untuk mengerjakan judul berikutnya, Sony akhirnya menyadari potensi konsep baru tersebut dan mencoba menawarkan kerja sama.
Tawaran itu langsung ditolak oleh FromSoftware dengan alasan Sony sebelumnya sama sekali tidak memberikan dukungan untuk Demon’s Souls. FromSoftware kemudian memilih untuk melanjutkan proyeknya bersama Bandai Namco dan mengubah judul proyek baru tersebut menjadi Dark Souls.
Yoshida menyebutkan bahwa dia sering dikritik oleh audiens luar negeri karena gagal melihat daya tarik sejati dari Demon’s Souls. Dia bercerita bahwa pada saat itu dia memiliki asumsi tentang game action yang harus dirancang agar bisa menuntun pemainnya ke menuju pengalaman bermain yang menyenangkan secara mulus.
Pemikiran ini justru membuatnya gagal memahami visi sebenarnya dari sang kreator, Hidetaka Miyazaki. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga baginya untuk selalu berdiskusi langsung dengan para kreator demi memahami pengalaman yang ingin mereka ciptakan sejak awal.
Pada akhirnya, Yoshida merasa keputusan PlayStation untuk melepaskan Demon’s Souls justru berdampak baik bagi industri ini. Judul garapan Miyazaki seperti Dark Souls maupun Elden Ring kini telah berkembang menjadi franchise besar di seluruh dunia.
Pelajaran dari kesalahan pada masa lalu tersebut juga memungkinkan PlayStation dan FromSoftware untuk berdamai dan membentuk Bloodborne.
Bagaimana menurut kalian dengan cerita dari mas Shuhei Yoshida ini? Jangan lupa follow DirektoriGim agar tetap update dengan berita videogame lainnya.






