Suka 2D Soulslike? Bersiaplah untuk Batara: Fate Unbound!
Menjanjikan dan layak dinantikan.
Lagi-lagi ada developer indie yang menunjukkan keterampilannya di kancah video game. Kali ini, sebuah studio baru bernama Unfated Studios mengumumkan proyek game perdana mereka yang bernuansa budaya khas Indonesia: soulslike 2D dengan sistem combat ala Sekiro yang berjudul Batara: Fate Unbound.
Menurut keterangan yang dirilis oleh pihak developer, ide game ini berawal dari passion project salah satu pendiri studionya yang berasal dari Jakarta, Roofi Mulya, yang ingin menghadirkan berbagai elemen budaya Indonesia yang menurutnya masih under-represented di media modern. Dan yang tidak kalah mengesankan, proyek game ini bermula dari sebuah kompetisi bisnis kreatif 2025 UP/START yang diadakan di Maryland Institute College of Art (MICA), tempat Roofi membuat pitch untuk project game ini yang saat itu masih disebut “UNFATED PROJECT”.
Soal inspirasi di balik pembuatannya, Roofi menyebut dua nama besar yang cukup terkenal di kalangan penggemar kisah-kisah dark fantasy: Berserk karya Kentaro Miura dan Skyrim besutan Bethesda. Roofi juga menambahkan Stormlight Archive karya Brandon Sanderson sebagai referensinya, yang cukup masuk akal kalau melihat bagimana Batara: Fate Unbound membangun dunianya dengan art style yang diberi julukan “estetik indodark”.
Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dari sisi gameplay, developer menjelaskan game ini sebagai dark fantasy “yang menyerupai Sekiro” dengan gaya visual 2D hand-painted, alias digambar manual di medium digital tanpa bantuan AI. Combat-nya sendiri berfokus pada parry, mirip formula yang bikin Sekiro: Shadows Die Twice jadi begitu ikonik. Di game-nya nanti, pemain akan berperan sebagai Moriyan, sosok misterius dengan julukan “The Unfated”, yang menjelajahi reruntuhan Yrdra sambil berhadapan dengan para dewa.
Meski terlihat adanya berbagai elemen dari budaya Indonesia, developer sudah menegaskan bahwa dunia Yrdra yang mereka buat adalah dunia fantasi fiksi murni, bukan representasi langsung dari budaya atau negara tertentu. Jadi buat yang khawatir soal isu cultural appropriation, Unfated Studios sudah cukup jelas soal ini. Mereka mengangkat elemen visual budaya Indonesia sebagai inspirasi, bukan mereplikasinya secara literal.
Unfated Studios sendiri didirikan oleh tiga orang: Roofi Mulya, Toby Leiserowitz, dan Hugo Hogendoorn. Meski tim intinya kecil, mereka bekerja sama dengan sejumlah artist dari berbagai negara secara remote, termasuk dari Polandia dan Filipina, menggunakan Figma dan Discord untuk kolaborasi async lintas zona waktu. Lumayan impresif untuk ukuran studio indie yang baru menggodok proyek pertamanya.
Dari kiri ke kanan: Hugo Hogendoorn, Roofi Mulya, Toby Leiserowitz
Untuk pendanaannya, akun resmi Unfated Studios menyebutkan bahwa kampanye Kickstarter akan diluncurkan dalam waktu dekat, meski belum ada tanggal pasti yang diumumkan. Sembari menunggu, Batara: Fate Unbound sudah bisa di-wishlist di halaman Steam-nya, buat kalian yang penasaran dan ingin dapat notifikasi begitu ada update lebih lanjut.
Jujur, menurut gue, game ini lumayan menarik buat dipantau, apalagi buat para gamer yang suka dan tertarik melihat budaya Indonesia diangkat dengan cara yang niat di ranah video game.
Sekian dulu informasinya. Terus follow DirektoriGim biar kamu enggak ketinggalan update soal Batara: Fate Unbound dan proyek-proyek game indie keren lainnya, ya!
#direktorigim #indiegaming #soulslike #platformer #indonesiagaming #indiestudio





