Perkembangan generative AI mulai memberikan perubahan terhadap kebutuhan tenaga kerja di industri game Jepang. Sebuah survei terbaru dari Hiraku Agent menunjukkan bahwa sejumlah pekerjaan yang selama ini banyak dilakukan oleh kreator junior atau pekerja dengan pengalaman lebih sedikit mulai mengalami penurunan permintaan.
Dilansir dari AUTOMATON, Hiraku Agent menerbitkan laporan pada 16 September 2026 mengenai pengaruh teknologi AI terhadap kebutuhan tenaga kerja dan posisi pekerjaan di industri game Jepang. Laporan tersebut berdasarkan survei terhadap sekitar 1.008 orang yang bekerja di bidang rekrutmen industri game domestik Jepang pada 2026, kemudian dibandingkan dengan survei serupa yang dilakukan pada 2024.
Dalam survei terbaru tersebut, pengalaman dan kemampuan masih menjadi faktor yang paling banyak dicari perusahaan ketika merekrut pekerja baru. Sebanyak 32,9% responden memilih “pengalaman dan kemampuan sebelumnya” sebagai faktor utama.
Di posisi berikutnya, 30,8% responden menyebut kemampuan serta kemauan untuk beradaptasi dan mempelajari teknologi baru seperti AI. Sementara itu, 27,9% memilih pemahaman terhadap game yang dibuat oleh perusahaan sebagai salah satu hal yang paling diperhatikan.
Hasil tersebut mengalami perubahan dibandingkan survei 2024. Saat itu, pengalaman dan kemampuan berada di posisi pertama dengan 35,1%, diikuti kesukaan terhadap genre game tertentu sebesar 26,3% dan kemampuan komunikasi sebesar 25,1%.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan yang berkaitan dengan AI mulai mendapatkan perhatian lebih besar dalam proses perekrutan. Ketika ditanya seberapa penting kemampuan AI, termasuk pengalaman menggunakan generative AI, dalam perekrutan pekerja industri game saat ini, 34,1% responden menjawab “sangat penting” dan 57% mengatakan “cukup penting”.
Pekerjaan yang Mulai Mengalami Penurunan Permintaan
Bagian yang paling menarik dari laporan ini adalah ketika para perekrut ditanya mengenai posisi pekerjaan yang mengalami penurunan jumlah lowongan akibat semakin luasnya penggunaan AI.
Jawaban paling banyak adalah posisi art dan graphics yang mengerjakan tugas-tugas sederhana seperti membuat background dan properti, dengan 44,6% responden memilih kategori tersebut.
Setelahnya terdapat assistant-level programmer dengan 37,2%, kemudian staf testing dan debugging dengan 28,8%.
Hiraku Agent melihat adanya kemungkinan bahwa pekerjaan yang selama ini sering diberikan kepada kreator muda atau pekerja dengan pengalaman lebih sedikit mulai mengalami perubahan. Tugas yang dapat dilakukan berdasarkan aturan dan pola yang sudah jelas dinilai lebih mudah untuk dibantu, atau bahkan diotomatisasi, menggunakan AI.
Kondisi ini juga dapat membuat seseorang yang baru ingin masuk ke industri game menghadapi tantangan yang berbeda. Menurut laporan tersebut, kandidat dengan pengalaman lebih sedikit kemungkinan perlu memiliki keahlian khusus atau kemampuan tambahan yang dapat memberikan nilai lebih dibandingkan kemampuan produksi dasar.
Artinya, pekerjaan entry-level yang sebelumnya dapat menjadi pintu masuk untuk mendapatkan pengalaman di industri game berpotensi mengalami perubahan seiring perusahaan semakin banyak menggunakan AI dalam proses produksi.
Perusahaan Justru Mencari Talenta yang Bisa Menggunakan AI
Di sisi lain, penggunaan AI juga menciptakan kebutuhan terhadap jenis pekerja baru. Survei Hiraku Agent menunjukkan bahwa perusahaan mulai membutuhkan orang-orang yang mampu mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam proses pengembangan game.
Posisi yang paling banyak disebut adalah art director tingkat tinggi yang mampu memperbaiki sekaligus mengarahkan hasil generative AI, dengan 45,9% responden.
Berikutnya adalah AI engineer dan technical artist yang mampu mengintegrasikan AI ke lingkungan serta pipeline pengembangan game dengan 44,1%.
Sementara itu, 34,6% responden melihat adanya peningkatan kebutuhan terhadap kreator yang mampu menggunakan berbagai perangkat AI untuk menghasilkan pekerjaan secara lebih cepat.
Jadi, laporan ini tidak menggambarkan AI sebagai teknologi yang hanya menghilangkan pekerjaan di industri game. Perubahan yang terlihat lebih berkaitan dengan jenis kemampuan yang mulai dicari perusahaan.
Pekerjaan dengan tugas yang sederhana dan memiliki pola produksi yang jelas menjadi salah satu kategori yang paling banyak disebut mengalami penurunan lowongan. Pada saat yang sama, kemampuan untuk mengarahkan hasil AI, membangun pipeline berbasis AI, maupun menggunakan teknologi tersebut dalam proses kreatif justru semakin dicari.
Perubahan ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi calon developer yang baru ingin memasuki industri game. Kalau sebelumnya pengalaman produksi dasar dapat menjadi salah satu cara untuk memulai karier, perkembangan AI bisa membuat perusahaan semakin membutuhkan kandidat yang sudah memiliki keahlian spesifik sejak awal.
Bagaimana menurut kalian? Follow DirektoriGim agar selalu update dengan berita terkini di industri video game.
#AI #GenerativeAI #GameDevelopment #GamingIndustry #DirektoriGim






