Buat kalian yang belum tahu Warhammer, Warhammer adalah seri miniature wargame yang sudah ada sejak 1983. Dalam permainan ini, kalian nantinya membeli miniatur karakter yang masih polos, lalu mengecatnya sendiri menggunakan kuas. Miniatur tersebut kemudian digunakan untuk bertarung melawan miniatur milik pemain lain. Sederhananya memang seperti itu.
Yang bikin semuanya menjadi jauh lebih kompleks adalah rulebook, lore yang sangat luas, miniatur yang harus dicat satu per satu, serta harga yang tidak bisa dibilang murah. Untuk membeli miniatur resmi dari Games Workshop saja, misalnya, kalau kalian ingin membeli Warhammer Age of Sigmar Introductory Set, harganya bisa mencapai sekitar Rp1,2 juta di Indonesia. Itu belum termasuk shipping, belum lagi belasan jam yang harus kalian curahkan untuk mengecat miniaturnya, dan tentunya mencari teman untuk bermain. Ibaratnya, Warhammer memang terasa seperti hobi orang kaya kalau dimainkan di sini.
Tapi, kok bisa seri Warhammer menjadi begitu terkenal?
Jawabannya ada pada lore dan berbagai adaptasinya yang jauh lebih mudah diakses dibandingkan miniature wargame-nya. Bahkan sebelum kalian mengenal miniature wargame, mungkin sebagian besar sudah mengenal Warhammer melalui adaptasi video game-nya, ataupun melalui spin-off seperti Warhammer 40K.
Warhammer yang biasa kita kenal sebagai Warhammer Fantasy merupakan versi fantasy dari Warhammer, sementara 40K kurang lebih menjadi versi sci-fi-nya. Salah satu adaptasi video game terbaik untuk pemula dari Warhammer Fantasy menurut gw adalah Total War: Warhammer.
Game ini menggunakan Warhammer Fantasy edisi ke-8 sebagai basisnya, dengan lore yang besar dan faction yang sangat beragam. Salah satu hal yang paling gw suka dari Total War adalah skalanya.
Sumpah, kalau kalian pernah memainkan miniature wargame, kalian pasti pernah berpikir, “Kalau gw punya uang sebanyak itu, gw bakal bikin perang miniatur dalam skala sebesar mungkin.”
Di Total War: Warhammer, kalian nggak perlu merogoh dompet ataupun mengambil kredit bank ratusan juta rupiah untuk melakukan hal tersebut. Game ini memberikan pengalaman mengontrol ratusan hingga ribuan unit untuk menghadapi faction lainnya. Dan ini benar-benar gila, apalagi ketika gamenya sedang mendapatkan diskon besar di Steam.
Kebetulan, saat ini ada tiga seri Total War: Warhammer. Sesuai dengan judulnya, pembahasan kali ini berfokus pada Total War: Warhammer 3. Pertanyaannya, kenapa game ini cocok untuk pemula, dan kenapa kalian bisa langsung terjun ke seri ketiganya?
Tutorial yang Mengajarkan Hampir Semuanya
Kita mulai dari alasan pertama. Mungkin beberapa dari kalian merasa terintimidasi ketika melihat game seperti Total War: Warhammer 3. “Wah, ini game strategy, berarti harus banyak mikir. Susah nih.” Atau mungkin melihat UI-nya saja sudah membuat kalian berpikir, “Gw nggak paham sama sekali.”
Tenang saja.
Total War: Warhammer 3 menghadirkan prologue chapter yang berfungsi sebagai tutorial. Menurut gw, prologue chapter ini merupakan salah satu tutorial terbaik di seluruh seri Total War karena kalian tidak hanya diajari cara bermain, tetapi juga langsung diperkenalkan dengan cerita dan tema utama dari game ketiganya.
Dan story opening yang menjadi landasan game ini berhasil membuat gw langsung hooked dan nggak sabar untuk terjun ke main campaign-nya.
Singkatnya, cerita di prologue ini mengikuti faction Kislev yang dipimpin oleh Yuri Barkov. Ursun, dewa beruang yang dipercaya oleh masyarakat Kislev, tiba-tiba menghilang begitu saja. Akibatnya, Kislev mengalami krisis. Negara mereka membeku dan penduduknya ikut menderita.
Yuri sendiri adalah seorang pangeran Kislev yang sedang berada di kutub utara untuk mencari tahu apa yang terjadi pada dewanya. Ketika Yuri sudah berada di titik di mana dirinya tidak lagi kuat dan hampir menyerah, dia mendapatkan panggilan dari dewanya.
Di sinilah tutorial mulai mengajarkan berbagai mekanik permainan. Kita diperkenalkan dengan world map tempat kita bisa menggerakkan lord dan pasukan, kemudian mendapatkan berbagai pilihan yang cukup memperkaya lore, lengkap dengan reward yang berbeda-beda.
Kita juga diajarkan cara membangun settlement atau kota. Kota-kota ini dapat memberikan berbagai reward, mulai dari uang hingga sumber daya untuk produksi, tergantung bangunan yang kita dirikan.
Kalau kalian pernah memainkan game dalam genre grand strategy, gameplay loop Total War: Warhammer 3 mungkin akan terasa cukup familiar. Kita bisa membangun settlement, mengembangkan kota, lalu menentukan arah perkembangan melalui pilihan upgrade dan research dalam semacam tech tree yang tersedia untuk setiap faction.
Seiring berjalannya permainan, peningkatan tersebut mulai terasa dan memperkuat presence kita di dunia game. Semakin maju peradaban kita, semakin banyak hal yang bisa kita implementasikan, baik untuk mempercepat regenerasi kekuatan militer maupun mengembangkan kekuatan ekonomi.
Ketika Perang Dimulai
Tapi yang membuat seri Total War semakin kompleks adalah gameplay perangnya. Pertempuran memang bisa di-automate agar langsung selesai, tetapi tentunya tidak semua situasi bisa diselesaikan dengan cara tersebut. Salah satu hal paling keren dari game ini adalah skala perangnya yang masif.
Dan kembali lagi ke sejarah Warhammer sebagai wargame, melihat unit-unit dari berbagai faction kalian bertempur dalam skala sebesar ini memang terasa luar biasa. Apalagi kamera bisa di-zoom ketika perang berlangsung untuk melihat detail unit dengan lebih dekat.
Pertempurannya sendiri juga benar-benar membutuhkan strategi. Kalian nggak bisa asal menumpuk satu pasukan di depan musuh. Misalnya, kalian bisa menggunakan satu unit untuk menghadang musuh agar perhatian mereka terfokus ke unit tersebut. Sementara itu, pasukan lain bisa melakukan flank dari sisi kanan atau kiri untuk memberikan damage lebih cepat.
Logikanya cukup sederhana. Kalau ada satu unit di depan dan dua unit berada di belakangnya, unit yang berada di belakang akan kesulitan menyerang karena tertutup oleh pasukan di depannya.
Tapi bukan berarti menumpuk pasukan di satu tempat selalu merupakan keputusan yang buruk. Kalau kalian sedang mempertahankan sesuatu yang berada di belakang pasukan, misalnya, kalian bisa mengumpulkan pasukan untuk membentuk pertahanan sekaligus menyiapkan unit dengan ranged weapon untuk menyerang musuh dari kejauhan.
Hal-hal seperti ini akan kalian temui di Total War: Warhammer 3, dengan variasi unit yang sangat banyak berdasarkan dunia Warhammer Fantasy. Logikanya juga semakin bervariasi ketika kalian mulai memahami tipe-tipe unit yang tersedia.
Ada berbagai hal lain yang bisa digunakan sebagai advantage dalam pertempuran. Salah satunya adalah terrain advantage. Misalnya, ketika posisi unit kalian berada di tempat yang lebih tinggi dibandingkan unit musuh, kalian bisa mendapatkan berbagai bonus, termasuk tambahan damage.
Jadi, selain mengatur unit, kalian juga harus memperhatikan posisi terrain. Ini bisa menjadi game changer dalam sebuah pertempuran.
Kalian bahkan bisa menyembunyikan unit di dalam hutan untuk melakukan ambush terhadap musuh.
Pokoknya, variasinya sangat banyak. Strategi yang tepat bisa mengubah kondisi yang awalnya terlihat seperti decisive defeat menjadi setidaknya sebuah victory. Begitu juga sebaliknya, keputusan yang salah bisa membuat kemenangan yang seharusnya mudah berubah menjadi kekalahan.
Selain lord utama yang dapat memimpin pasukan dalam jumlah besar, game ini juga memiliki heroes. Mereka bisa kalian gerakkan di map untuk membantu melakukan berbagai aktivitas, seperti menyerang kota musuh atau mengganggu unit lawan.
Heroes juga bisa dimasukkan ke dalam army milik lord dan berfungsi sebagai salah satu karakter terkuat dalam pasukan tersebut.
Semua mekanik ini akan diajarkan dengan cukup baik di bagian tutorial. Bahkan hal-hal yang ketika gw jelaskan mungkin terdengar “ribet”, sebenarnya bisa terasa jauh lebih mudah ketika kalian langsung mempraktikkannya di dalam game.
Sebuah Konflik yang Menjadi Awal Campaign
Ternyata Yuri Barkov selama ini dimanipulasi oleh Be’lakor. Ursun sendiri nggak pernah benar-benar memberikan bantuan atau kenyamanan secara langsung ketika Yuri berada di titik paling sulit dalam hidupnya. Yang Yuri dapatkan dari Ursun justru tuntutan.
Sementara itu, Chaos Gods malah memberikan kekuatan dan bantuan yang Yuri butuhkan untuk menjaga anak buahnya tetap hidup. Sampai akhirnya Yuri berhasil mencapai Ursun yang sedang dipenjara.
Di titik ini, Be’lakor berhasil meyakinkan Yuri kalau Ursun yang sekarang sudah lemah, menyedihkan, dan nggak lagi pantas untuk disembah. Akhirnya, Yuri menembak Ursun.
Raungan Ursun ketika sedang disiksa dan dirantai membuka rift menuju Realm of Chaos di berbagai tempat di dunia. Dari sinilah berbagai faction mulai berlomba-lomba masuk ke Realm of Chaos, mengalahkan guardian yang kuat, mengumpulkan daemon souls, dan akhirnya mencapai penjara tempat Ursun berada.
Yang membuat campaign ini menarik, setiap faction punya alasan mereka sendiri untuk mencapai Ursun.
Kislev ingin menyelamatkan sekaligus menyembuhkan dewa pelindung mereka.
Grand Cathay, termasuk Miao Ying, ingin mendapatkan jawaban mengenai anggota keluarga kerajaan mereka yang hilang.
Ogre Kingdoms? Mereka cuma mau makan dewa tersebut.
Sementara faction Chaos dan Daemon Prince memiliki tujuan yang berbeda lagi. Mereka ingin menghabisi Ursun, atau memanfaatkan kekuatan dari dewa yang sedang sekarat ini untuk kepentingan mereka sendiri.
Dan ya, inilah main campaign dari Total War: Warhammer 3.
Setiap faction memiliki objective kemenangan yang berbeda, dan menurut gw, ini menjadi salah satu hal yang membuat campaign-nya seru. Kita bisa melihat semacam what if scenario dari perspektif setiap faction.
Setiap Faction Punya Cara Bermain yang Berbeda
Salah satu hal yang membuat gw suka dengan Total War: Warhammer adalah faction-nya. Kenapa? Layaknya fighting game yang memiliki archetype berbeda-beda, setiap faction dalam game ini juga memiliki gameplay yang berbeda.
Kalian ingat technology tree yang ada di Kislev? Setiap faction memiliki technology tree mereka sendiri karena sistem tersebut juga merefleksikan ciri khas masing-masing faction. Cara sebuah faction memproduksi unit pun bisa berbeda.
Misalnya Nurgle yang memproduksi unit menggunakan cyclical building. Militer Nurgle berputar atau bersiklus secara otomatis dari tingkat rendah ke tingkat tinggi, lalu kembali lagi ke awal seiring berjalannya waktu.
Hal ini menambah layer lain dalam mengatur movement. Satu movement di Total War: Warhammer cukup berharga karena salah mengambil langkah sedikit saja bisa membuat kalian dikepung oleh satu pasukan.
Setiap faction juga dibuat berdasarkan lore original Warhammer. Meskipun Total War: Warhammer memberikan kita campaign yang tidak canon dengan apa yang terjadi di Warhammer Fantasy, Creative Assembly tetap memberikan faction-faction tersebut lore dan placement yang cukup akurat.
Setiap faction memiliki starting point yang berbeda di map tertentu. Mereka juga memiliki faction lain yang memang secara lore menjadi musuh mereka.
Misalnya, manusia di game ini tentunya memiliki konflik dengan faction-faction Chaos, begitu pula sebaliknya.
Jadi, tergantung kalian memainkan faction apa, konflik di game ini nggak akan mudah dihindari karena selalu ada opposing faction di seberang sana.
Immortal Empires Mengubah Skala Permainannya
Apakah semua hal yang disebutkan tadi membuat Total War: Warhammer 3 menjadi game definitive yang wajib dimainkan newcomer di serinya?
Kayaknya nggak juga.
Beberapa orang tetap lebih memilih Total War: Warhammer 2. Namun, ada satu hal lagi yang membuat game ketiga ini terasa seperti definitive edition untuk seri Total War: Warhammer, yaitu Immortal Empires.
Uhhhh, where do I begin? Bayangkan saja semua faction yang ada di dunia Warhammer dari Total War: Warhammer 1 dan 2 digabungkan menjadi satu game, kemudian ditambah dengan faction-faction baru dari Total War: Warhammer 3.
Semua itu ditempatkan dalam sebuah seamless map yang berisi seluruh faction tersebut dalam satu campaign.
Hal ini membuat Immortal Empires menjadi salah satu campaign dengan skala terbesar dalam seri Total War. Replayability-nya juga sangat besar karena kalian punya perspektif dari ratusan lord, belum termasuk lord dari DLC terbaru seperti Lords of the Endtime.
Di dalamnya juga ada Nagash, karakter yang dibenci oleh banyak faction.
Such is the power of Nagash.
Buat newcomer, jumlah konten yang kalian dapatkan tentu sangat beragam. Memang, ada banyak DLC yang tersedia, tetapi menurut gw konten DLC ini juga nggak wajib.
Variasi karakter yang tersedia di base game saja sudah memberikan playthrough yang cukup panjang untuk dipelajari dan dikuasai. Kalau kalian suka dengan lore atau memang tertarik dengan karakter DLC tertentu, ya, go ahead, beli DLC-nya.
Gamenya sendiri juga cukup sering mendapatkan diskon besar di Steam.
Tidak Sempurna, Tapi Sangat Mudah Dikembangkan
Dengan begitu, Total War: Warhammer 3 bukanlah game yang sempurna. Ada berbagai macam bug yang masih bisa kalian temui, seperti unit yang nyangkut ketika perang berlangsung ataupun unit yang hanya diam ketika diserang musuh.
Untungnya, Total War: Warhammer 3 mendukung mod, sehingga ada banyak sekali mod yang bisa diimplementasikan untuk memperbaiki atau mengubah pengalaman bermain kalian.
Kontra-nya, mod tersebut kadang bisa menjadi obsolete setelah Creative Assembly merilis pembaruan baru.
Jadi agak gimana gitu…..
Seharusnya berbagai bug yang terjadi memang diperbaiki langsung oleh Creative Assembly, dan cukup disayangkan ketika beberapa masalah tersebut justru harus ditangani oleh para modder. Meskipun begitu, penilaian gw untuk game ini adalah 9/10.
Alasannya karena game ini memiliki konten yang sangat-sangat masif dan terasa worth it dengan price point-nya, terutama buat kalian yang ingin mendalami dunia Warhammer ataupun memang sudah menyukai Warhammer Fantasy dan ingin mencoba game Total War.
Kalau kalian mencari entry point ke dunia Total War: Warhammer, Total War: Warhammer 3 merupakan salah satu pilihan yang bisa langsung kalian pertimbangkan. Apalagi game ini juga cukup sering mendapatkan diskon besar di Steam.
Dan setelah melihat semua konten yang tersedia di dalamnya, cukup mudah untuk memahami kenapa satu game ini bisa menjadi pintu masuk ke dunia Warhammer yang begitu luas.













