Yellow Hearts Datang Menjadi Publisher Game Baru di Indonesia
DirektoriGim kini berkesempatan untuk menghadiri Launch Event Yellow Hearts
Rabu 29 April, DirektoriGim berkesempatan datang menghadiri acara Grand launching Publisher game pertama Indonesia, Yellow Heart. Acara yang hanya dihadiri oleh media dan developer game, serta beberapa tamu undangan, dengan membawa slogan “A bridge between Indonesia and the world”.
Yellow Heart sebagai publisher game pertama di Indonesia, mereka berkeinginan membawa nama game-game Indonesia ke market internasional, menjadi sebuah jembatan penghubung untuk memperkenalkan game-game Indonesia yang tidak kalah dengan game buatan negara lain, dalam presentasinya mereka juga menjanjikan untuk menjadi partner kolaborasi bagi para game dev di Indonesia, bukan menjadi perusahaan yang akan mengambil control kreativitas developer yang mereka naungi.
Hadirnya Yellow Heart sebagai publisher game di Indonesia disambut sangat baik oleh game dev yang hadir kala itu, saya pun ingin mengamini ucapan sang CEO pada sambutanya tentang kekurangan dan ketergantungan dengan publisher luar yang membatasi para game dev di indonesia untuk unjuk gigi, serta tentang aksesibilitas dan potensi perputaran uang dalam negeri, menunjukkan sebuah kondisi dimana selama ini, talenta developer Indonesia seolah mengalami gerhana panjang. Bukan karena mereka tidak bercahaya, tapi karena aksesibilitas dan dominasi publisher asing menjadi bayang-bayang yang menutup ruang gerak mereka untuk benar-benar unjuk gigi di panggung dunia.
Skala game game Indonesia memang belum bisa dibandingkan dengan game-game AAA dari raksasa industri game yang telah lama berlayar di kancah ini, bisa dibilang Indonesia baru sanggup mencapai lvl game indie dengan budget terbatas, namun seperti yang disampaikan oleh Mr. Brian selaku CEO bahwa game indie bukan lagi underdog di industri gaming, ia tidak sesumbar, ia mengatakan itu sambil memberikan data market share game indie yang mencapai $10.83B yang setara dengan 44% dengan total game yang terjual di market gaming, saya setuju ini Adalah sebuah angka yang tidak main-main, dengan data sebesar ini Mr. Brian menambahkan bahwa ia yakin industri gaming bukan lagi sekedar hobi, ini adalah lahan basah penuh potensi yang harus dimanfaatkan dan di dorong kemajuannya, Mr. Brian juga ikut menjanjikan untuk memperhatikan para developer, bukan sekedar title gamenya yang akan mereka perhatikan, tapi manpower di belakangnya lah yang akan mereka bina.
Nuansa positif memenuhi seisi ruangan, suara meriah tepuk tangan hadirin tidak henti-hentinya mengisi ruangan kami, saya juga turut takjub, namun ini juga membawa kekhawatiran bagi saya pribadi.
Sebagai bagian dari sebuah media game, kehadiran sebuah publisher game di Indonesia juga membawa tanggung jawab baru ke kami para media game. Industri game tidak berjalan satu arah, keterlibatan komunitas gamer adalah point penting kesuksesan sebuah game, jadi adanya harmonisasi publisher, developer dan komunitas gamer adalah sesuatu yang perlu dicapai. Untuk meraih ini, peran publisher akan jadi pemain penting guna meraih situasi ideal ini.
Dalam acara ini, saya berkesempatan untuk mengajukan sebuah pertanyaan pada Mr. Brian.
Raya: “Seperti yang anda ketahui, sebagai publisher game, budget terbesar setelah masa development adalah masa promosi. Melihat bahwa review game dari media game Indonesia sebenarnya tidak begitu memerankan point penting terhadap promosi, dimana hasil review yang bagus sekalipun biasanya tidak berbanding terbalik dengan hasil sale dari game tersebut, terutama reviewer game Indonesia yang bahkan tidak masuk ke Open Critic atau Metacritic, sehingga tidak bisa begitu di banggakan dalam page steam nantinya. Menurut anda apakah lebih baik key game yang dibagikan sebagai promosi digunakan untuk dibuat konten yang menarik minat gamer untuk bermain, atau tetap menjadi sekedar review yang punya peran tidak signifikan itu?”
Mr. Brian: “Kami senang konten apapun yang kalian buat, saya rasa review dan sebuah konten yang menarik minat pembeli kalau bisa dibuat dua duanya.”
Sebuah jawaban singkat, tapi saya harap pesan utama dari sinyal halus ini dapat diterima oleh Mr.Brian, memang benar indie game bukan lagi underdog di industri ini, ada banyak judul game indie yang meraih popularitas melebihi game AAA yang direlease bersamaan, dengan total penjualan yang tidak jarang bersaing bahkan melampaui game AAA yang release bersamaan.
Namun jangan lupa, di balik angka miliaran dolar itu, ada juga ribuan game indie lain yang nasibnya berakhir seperti gerhana yang sunyi, mereka ada di sana, mereka lahir dari usaha keras, namun sinarnya tertutup total oleh dominasi pasar hingga akhirnya hilang ditelan kegelapan sebelum sempat menyentuh mata para pemainnya, sebagai seorang gamer dan public relations, saya sangat sering sekali melihat game game seperti ini di pasaran, sebuah email yang datang pada saya dari sebuah game indie yang memohon untuk membantu promosikan gamenya bukan lah hal jarang saya temui, namun sayang sekali, bukan saya tidak mau membantu, tapi saya bingung harus mulai dari mana.
Kebanyakan developer indie hanya menyediakan key game cuma-cuma untuk kami review atau mainkan, beberapa menyediakan press kit berupa trailer, screenshot, dan artwork gamenya, namun seperti yang saya bilang sebelumnya, review game tidak memainkan peran se-signifikan itu di Indonesia. Ada banyak cara untuk memanfaatkan key game yang didistribusikan pada creator dan media game. Jikalau publisher memang senang dengan sebuah konten yang menarik minat game untuk memainkan game mereka, maka tolong perhatikan press kit kalian.
Keterbatasan dalam press kit menghambat kami dalam membuat konten. Selain screenshot atau trailer resmi gamenya, bisakah kalian sediakan para creator sebuah layout stream bersama dengan kamera frame misalnya, atau menyediakan key game lain untuk dibuat campaign giveaway pada para penonton agar mereka mau mencoba gamenya, atau asset-asset eksklusif yang bisa dipakai di OBS atau Streamlabs untuk memeriahkan livestreaming bagi para creator yang hendak mempromosikan game kalian.
Momentum dalam memberikan press kit juga seringkali aneh, dimana kami sering menerima press kit saat tidak ada update baru untuk gamenya, atau sekedar update kecil yang sulit sekali dinarasikan guna membantu membuat hype gamenya, jadi apa yang kalian ekspektasikan untuk kami buat? Untuk sebuah IP game skala besar seperti Kingdom Hearts, sedikit update dari proyek game baru mereka memang bisa membantu membangun hype, tapi bagi sebuah game indie tanpa nama dan dan studio baru tanpa reputasi yang cukup, apa yang kalian harapkan dari sebuah berita tentang update dari game kalian? Sederhana-nya, tolong jangan remehkan sebuah press kit.
Kurangnya variasi dalam campaign game game di Indonesia juga sangat saya rasakan, seperti tidak adanya kolaborasi atau campaign unik lainya, harapan saya dengan hadirnya Yellow heart segala masalah dan kekurangan ini dapat diperbaiki, dan di-improve. Seperti kata Mr. Brian, game adalah sebuah bisnis, dan dengan persaingan yang ketat dalam industri ini, kalimat “maklum lah game dev kita kan baru mulai” adalah pelarian dari seberapa tertinggalnya kita dalam industri keras ini.
Sejauh ini ada dua game yang akan Yellow Heart release, Typecaster dan Irradiant Skies. Saya berkesempatan untuk mencoba game ini, dan setuju dengan ucapan kawan saya Rafli saat lebih dulu mencoba Typecaster pada event IGDX tahun lalu, game ini punya banyak potensi, game ini akan jadi judul unik yang siap bersaing, untuk itu saya sangat menantikan bagaimana Yellow heart akan membawa game ini ke panggung peperangan.
Industri ini adalah lahan basah, tapi juga sangat keras. Tanpa strategi konten dan press kit yang mumpuni, sehebat apa pun gamenya, ia akan tetap menjadi gerhana, sebuah fenomena yang indah namun hanya lewat sekilas lalu terlupakan. Harapan saya, Yellow Heart bisa menjadi cahaya yang menyingkap bayang-bayang itu, bukan justru menambah panjang daftar mimpi yang tertutup kegelapan.
#gaming #yellowhearts #launchday








