Di dunia grimdark fantasy yang dibangun oleh Warhammer, ada satu titik ketika semuanya berakhir. Peristiwa ini dikenal sebagai The End Times, sebuah kejadian apokaliptik dalam lore Warhammer Fantasy yang menghancurkan dunia yang selama ini kita kenal dan menjadi transisi menuju Warhammer: Age of Sigmar.
Namun, di Total War: Warhammer III, ceritanya sedikit berbeda.
Lho, terus kenapa namanya ada End Times-nya? Ya, karena ini Lords of the End Times. Bukan The End Times. Oke, tamat artikelnya. Tamat.
Jokes aside, gw awalnya juga mengira Lords of the End Times bakal menjadi DLC terakhir buat Total War: Warhammer III. Apalagi, ekspansi ini mengadaptasi karakter dan skenario dari salah satu peristiwa paling besar dalam sejarah Warhammer Fantasy.
Namun, Creative Assembly sudah menjelaskan bahwa Lords of the End Times bukan akhir dari dukungan mereka terhadap game ini. Update dan DLC baru masih bisa terus dirilis selama kontennya dinilai layak secara bisnis dan mendapat persetujuan dari Games Workshop. Dan melihat antusiasme terhadap franchise ini, sepertinya masih ada banyak potensi yang bisa digarap.
Seperti yang sudah gw bahas dalam ulasan sebelumnya, salah satu hal paling menarik dari Total War: Warhammer adalah sifatnya yang sandbox. Game ini nggak harus mengikuti cerita canon Warhammer Fantasy secara linear. Pemain punya kebebasan untuk menulis sejarah mereka sendiri melalui setiap campaign yang dimainkan.
Jadi, meskipun Lords of the End Times membawa ancaman yang bisa menghancurkan dunia, hasil akhirnya tetap bergantung pada kalian. Bagaimana kalau Nagash benar-benar berhasil bangkit dan menguasai dunia? Bagaimana kalau para pengikut Chaos membawa kehancuran ke seluruh penjuru map? Atau, bagaimana kalau kalian justru berhasil menghentikan semua ancaman tersebut dan menyelamatkan dunia?
DLC ini menghadirkan karakter-karakter ikonik dari era The End Times, lengkap dengan invasi endgame yang diperbarui dan ancaman yang jauh lebih besar. Namun, dunia hanya akan berakhir kalau kalian kalah atau memilih untuk menghancurkannya sendiri. Menurut gw, kebebasan inilah yang membuat konsep Lords of the End Times begitu menarik untuk Total War: Warhammer III.
Selain menghadirkan konten berbayar, ekspansi ini juga membawa Neferata sebagai Legendary Lord gratis untuk semua pemain, termasuk mereka yang nggak membeli DLC utamanya. Dengan Legendary Lords baru, unit tambahan, mekanik campaign, serta perubahan besar terhadap Immortal Empires, skala ekspansi ini terasa jauh lebih besar daripada sekadar menambahkan beberapa karakter dari lore Warhammer.
Thanquol: Bermain Licik Tanpa Harus Terus Berperang
Campaign pertama yang gw coba dari DLC ini tentu saja Skaven, lebih tepatnya Thanquol yang memimpin Clan Scruten.
Campaign Thanquol terasa cukup berbeda dibandingkan campaign Skaven biasanya, terutama karena adanya mekanik baru bernama Masterplans yang menggunakan Warpstone sebagai resource khusus. Lewat mekanik ini, Thanquol bisa menyuruh anak buahnya menjalankan berbagai rencana di wilayah musuh, mulai dari operasi militer, sabotase ekonomi, sampai memperluas pengaruh Skaven tanpa harus terus-terusan berperang secara langsung.
Pendekatan ini cocok banget dengan cara gw memainkan Skaven. Daripada perang terus dengan semua orang, kita juga bisa menjalin hubungan dengan faction lain sambil diam-diam membangun under-empire di settlement mereka. Hehehe.
Lewat Masterplans, Thanquol punya beberapa jenis rencana yang bisa dijalankan.
Kill Stab memungkinkan Thanquol membentuk pasukan rahasia tanpa biaya upkeep untuk menyerang settlement musuh setelah persiapannya selesai.
Steel Take bisa menguras pendapatan, makanan, dan resource Warpstone dari suatu wilayah selama beberapa turn. Dengan begitu, kita bisa melemahkan ekonomi musuh tanpa harus langsung mengerahkan pasukan ke sana.
Terakhir, ada Great Smart, yang terbuka pada tahap campaign berikutnya. Rencana ini memungkinkan Thanquol memperluas jaringan under-empire, memanggil karakter elite, atau bahkan memicu kehancuran besar-besaran di suatu wilayah.
Mekanik ini cocok dengan karakter Skaven yang terkenal licik, suka bermain di balik layar, dan nggak selalu harus menghadapi musuh secara langsung. Namun, bukan berarti Thanquol cuma mengandalkan anak buahnya dari kejauhan.
Di medan perang, dia bisa bertarung dengan menunggangi Boneripper, Rat-Ogre setianya yang juga berfungsi sebagai bodyguard. Dengan Boneripper, Thanquol punya mobilitas lebih tinggi, serangan warp-fire, dan daya tahan yang jauh lebih baik dibandingkan spellcaster Skaven pada umumnya. Ditambah dengan kehadiran unit Stormfiends dalam DLC ini, Skaven menjadi faction yang sangat menyenangkan untuk dimainkan.
Thanquol memulai campaign di provinsi Black Water dan langsung berperang melawan Zufbar. Di sini, kita bisa memanfaatkan pasukan rahasia dari Masterplans untuk membantu menembus pertahanan Dwarf yang terkenal tangguh sejak awal permainan.
Secara keseluruhan, Thanquol adalah tambahan yang sangat layak untuk roster playable character kalian, khususnya bagi penggemar Skaven. Sayangnya, pengalaman bermain multiplayer masih terganggu oleh sejumlah bug yang bisa membuat campaign tidak dapat dilanjutkan. Memang, komunitas sudah menyediakan mod untuk memperbaiki masalah tersebut, tetapi rasanya mengecewakan ketika masalah seperti ini harus ditangani oleh modder.
Creative Assembly juga masih berusaha memperbaiki berbagai masalah melalui patch terbaru. Kita hanya bisa berharap perbaikan selanjutnya bisa membuat pengalaman bermain lebih stabil.
The Glottkin: Kombinasi Warriors of Chaos dan Nurgle
Selanjutnya, ada The Glottkin, tiga bersaudara Ethrac, Otto, dan Ghurk yang bertarung sebagai satu entitas monster dan memimpin faction Host of the Triplets.
Kalau Thanquol menawarkan pendekatan Skaven yang penuh tipu muslihat, The Glottkin justru menggabungkan dua sistem gameplay yang berbeda, yaitu Warriors of Chaos dan Nurgle. Hasilnya, menurut gw, salah satu campaign Nurgle paling seru yang bisa kalian mainkan di Total War: Warhammer III.
Salah satu masalah ketika memainkan faction Nurgle biasanya ada pada perkembangan ekonomi dan produksi unit yang cenderung lambat. The Glottkin punya pendekatan berbeda untuk mengatasi masalah tersebut.
Ketika menaklukkan settlement milik bangsa mortal, kalian nggak akan mengelolanya seperti settlement biasa. Sebaliknya, wilayah tersebut akan diubah menjadi Garden, yang bisa menghasilkan Plague unik sekaligus membuka akses untuk merekrut lebih banyak unit Daemon Nurgle dibandingkan faction Chaos mortal lainnya.
Kombinasi mekanik ini membuat roster The Glottkin terasa sangat fleksibel. Kalian bisa menggabungkan berbagai unit Warriors of Chaos dengan pasukan Nurgle tanpa harus terlalu bergantung pada satu jenis unit saja.
Belum lagi, campaign ini menghadirkan empat Legendary Hero sekaligus, yaitu Gutrot Spume, Orghotts Daemonspew, Morbidex Twiceborn, dan Bloab Rotspawned.
Kehadiran mereka membuat pilihan pasukan The Glottkin semakin beragam. Kalian bisa meracik army yang menggabungkan Daemon Nurgle tier tinggi, Putrid Blightkings, sampai monster besar seperti Giant Spined Chaos Beast ke dalam satu pasukan Chaos Warrior.
Namun, ada satu hal yang menurut gw agak underwhelming, yaitu story campaign-nya. Victory conditions yang diberikan terasa cukup sederhana karena fokus utamanya hanya mengalahkan Empire, ditambah lagi dengan starting pointnya yang cukup membingungkan. Padahal, dengan karakter dan mekanik seunik The Glottkin, masih ada banyak kemungkinan cerita yang bisa dieksplorasi.
Meski begitu, dari sisi gameplay, The Glottkin tetap menjadi salah satu karakter paling menyenangkan untuk dimainkan dalam DLC ini. Kombinasi mekanik Warriors of Chaos dan Nurgle, ditambah roster yang sangat fleksibel, membuat campaign-nya terasa berbeda dari pengalaman bermain Nurgle biasanya.
Boris Todbringer: Pertahanan yang Justru Menuntut Agresi
Boris Todbringer sebenarnya karakter yang awalnya kurang gw minati. Namun, setelah gw coba sendiri, ternyata campaign-nya seru banget untuk dimainkan.
Kalau Thanquol dan The Glottkin membawa ancaman besar yang bisa mengubah atau menghancurkan dunia, Boris menawarkan pendekatan berbeda. Dia adalah manusia biasa yang harus bertahan di tengah berbagai ancaman yang mengincar Empire. Tanpa kekuatan supernatural sebesar Legendary Lord lainnya, Boris harus mengandalkan kekuatan militer dan mempertahankan tanah kelahirannya dari kehancuran.
Boris memulai campaign di Middenland, dengan Middenheim sebagai ibu kota sekaligus tanah leluhurnya. Masalahnya, lokasi ini dikelilingi berbagai ancaman. Ada Festus the Leechlord yang berkuasa di Brass Keep, serta Khazrak One-Eye, musuh bebuyutannya yang berkeliaran di hutan Drakwald.
Berbeda dengan Legendary Lord lain yang mendorong kalian untuk memperluas wilayah dan membangun kekaisaran, campaign Boris lebih berfokus pada mengamankan wilayah yang sudah dimiliki. Kalian harus terus menghadapi ancaman Beastmen yang muncul di sekitar Middenland sebelum mereka berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Di sinilah mekanik unik Boris, yaitu Drakwald Threat, mulai berperan. Mekanik ini memaksa kalian untuk terus bergerak dan memburu kelompok Beastmen yang mengancam wilayah sendiri. Kalau dibiarkan terlalu lama, ancaman tersebut bisa semakin sulit dikendalikan.
Boris juga punya resource unik bernama Fervour, yang bisa dikumpulkan dengan mengalahkan musuh-musuh Middenland, baik manusia maupun daemon. Resource ini digunakan untuk mengembangkan enam Sanctuaries di Great Temple of Middenheim melalui empat tahap progresi.
Setiap Sanctuary memberikan buff besar untuk seluruh faction sekaligus memperkuat Flame of Ulric, yang bisa membuka akses langsung ke unit elite Elector State Troopers.
Boris juga memiliki Winter Rites yang dapat memperkuat pasukannya. Salah satu yang paling berguna bahkan bisa memulihkan seluruh movement points sebuah army, sehingga kalian bisa mengejar musuh yang mencoba kabur setelah menyerang wilayah sendiri.
Menurut gw, desain mekanik seperti ini keren banget. Meskipun Boris punya pendekatan defensif karena harus melindungi Middenland, cara kalian mengembangkan faction ini justru menuntut permainan agresif. Kalian harus terus menyerang dan mengalahkan musuh untuk mengumpulkan Fervour. Kalau terlalu lama diam dan hanya bertahan di wilayah sendiri, perkembangan Sanctuary juga bisa terhambat.
Jadi, ini semacam mekanik defensif yang justru mendorong kalian untuk terus bermain ofensif. Kalian harus aktif memburu musuh supaya pertahanan Middenland semakin kuat.
Dari sisi pasukan, Boris juga punya pendekatan yang cukup berbeda dari strategi yang biasanya gw gunakan. Dia berfokus pada pertempuran jarak dekat dan serangan langsung ke garis depan. Boris bahkan memulai campaign tanpa satu pun unit missile infantry. Artinya, kalian nggak bisa terlalu mengandalkan pemanah atau pasukan jarak jauh untuk melemahkan musuh sebelum pertempuran dimulai.
Sebaliknya, kalian didorong untuk langsung menerjang garis pertahanan lawan menggunakan pasukan melee, termasuk unit Cult of Ulric seperti Teutogen Guard dan White Wolves.
Namun, pendekatan ini juga punya keterbatasan. Kalau kalian terlalu bergantung pada serangan melee dan charge untuk menghadapi infantry, variasi strategi di late game bisa terasa lebih terbatas. Mengombinasikan pasukan Boris dengan artileri Imperial bisa membantu menghadapi komposisi musuh yang lebih beragam.
Secara keseluruhan, menurut gw, Boris Todbringer punya campaign yang cukup straightforward dan relatif ramah untuk pemain pemula. Dibandingkan Thanquol atau The Glottkin yang membawa mekanik campaign lebih kompleks, Boris terasa lebih mudah dipahami. Buat karakter yang awalnya kurang gw minati, dia justru memberikan pengalaman bermain yang jauh lebih seru dari perkiraan.
Neferata: Penguasa Undead dengan Sistem yang Lebih Organik
Neferata sedikit berbeda dari Legendary Lord lainnya karena dia hadir sebagai karakter gratis bersamaan dengan Update 9.0.
Sebagai salah satu karakter paling manipulatif di dunia Warhammer, pendekatan campaign Neferata juga sesuai dengan reputasinya. Tujuan utamanya nggak cuma memperluas wilayah, tetapi juga membangun jaringan pengaruh melalui Vampire Covens yang tersebar di seluruh dunia.
Untuk Short Victory, misalnya, kalian harus membangun 15 Vampire Covens, mengalahkan rival terdekatnya, Castorf, dan mengamankan wilayah pegunungan di sekitar starting territory-nya.
Namun, menurut gw, hal yang paling menarik dari Neferata justru bukan cuma campaign-nya, melainkan rework besar yang diterima Vampire Counts lewat Update 9.0. Sekarang, cara bermain Vampire Counts lebih berfokus pada pengelolaan pasukan undead melalui dua resource utama, yaitu Corpses dan Blood.
Corpses bisa kalian kumpulkan dari pertempuran yang terjadi di suatu provinsi. Resource ini digunakan untuk merekrut unit-unit dari tier rendah sampai menengah, seperti Zombies, Corpse Carts, dan Grave Guard.
Sementara itu, Blood merupakan resource yang lebih langka. Kalian bisa mendapatkannya dengan mengolah Corpses melalui bangunan tertentu, seperti Catacomb of Woes. Blood kemudian digunakan untuk membuka teknologi tingkat lanjut, mengaktifkan Bloodlines, meningkatkan batas rekrutmen unit elite, sampai menjalankan Blood Decrees.
Perubahan ini juga membuat mekanik Raise Dead menjadi bagian utama dari proses perekrutan dan pengisian ulang pasukan. Bangunan rekrutmen tradisional mengalami perubahan besar, sehingga kalian harus lebih memperhatikan lokasi pertempuran dan pengelolaan resource untuk membangun pasukan undead.
Menurut gw, sistem seperti ini cocok banget dengan identitas Vampire Counts. Proses bermainnya terasa semakin organik karena pengembangan pasukan benar-benar terhubung dengan cara mereka mengumpulkan dan memanfaatkan mayat.
Selain itu, skill tree untuk Lord, Hero, dan Bloodline juga mendapatkan perombakan. Salah satu perubahan yang menurut gw keren banget adalah kemampuan karakter tertentu, seperti Vlad dan Isabella, untuk bertransisi dari Hero menjadi Lord setelah mencapai level 20 dan membuka skill tertentu di bagian akhir skill tree.
Jadi, karakter yang awalnya berperan sebagai Hero bisa berkembang menjadi pemimpin army mereka sendiri. Perubahan ini memberikan fleksibilitas tambahan dalam mengembangkan karakter sekaligus membangun kekuatan Vampire Counts sepanjang campaign.
Secara keseluruhan, rework ini membuat Vampire Counts punya sistem pengelolaan pasukan yang lebih terintegrasi dengan identitas mereka sebagai penguasa undead. Campaign Neferata sendiri juga cukup menyenangkan untuk dimainkan berulang kali, terutama jika kalian ingin mengejar Long Victory. Dan karena karakter ini gratis, gw rasa ada sedikit alasan untuk mengeluh soal konten yang ditawarkan.
Nagash: Supreme Lord of Undeath yang Sangat Broken
Nagash adalah karakter terbaik di Total War: Warhammer III. Dan kalau ngomongin seluruh dunia Warhammer, dia juga salah satu bajingan nomor satu yang pernah ada.
Sebagai salah satu karakter utama di Lords of the End Times, Nagash benar-benar menjadi representasi dari kekuatan necromancy yang sudah mencapai level paling absurd. Dia bukan cuma Legendary Lord yang kuat, tetapi juga pemimpin undead yang punya akses ke berbagai pasukan dari seluruh franchise Warhammer Fantasy.
Nagash adalah satu-satunya Lord yang bisa merekrut, menggabungkan, dan memperkuat unit dari ketiga race undead sekaligus. Mulai dari pasukan skeletal milik Tomb Kings, gerombolan undead Vampire Counts, sampai para bajak laut bersenjata mesiu dari Vampire Coast.
Kalian nggak perlu lagi terpaku pada satu roster tertentu. Kalian bisa membangun army yang menggabungkan berbagai jenis unit undead sesuai kebutuhan, mulai dari pasukan untuk menahan garis depan sampai monster-monster yang bisa menghancurkan formasi musuh.
Roster Nagash juga dilengkapi beberapa unit baru yang nggak kalah mengerikan, seperti Morghast Harbingers, Khemric Titan, Spirit Host, dan Drakenhof Templars. Kalau kalian suka bereksperimen dengan komposisi army, Nagash memberikan kebebasan yang sulit ditandingi faction lain.
Namun, hal yang membuat campaign Nagash terasa berbeda bukan cuma roster-nya. Salah satu elemen paling penting adalah Black Pyramid, markas ikonik yang menjadi pusat kekuatannya.
Black Pyramid memiliki upgrade tree sendiri yang menggunakan Sigils untuk membuka berbagai peningkatan besar bagi faction kalian. Mulai dari buff untuk seluruh faction, pengurangan biaya upkeep, sampai peningkatan kapasitas rekrutmen unit elite.
Berbeda dari faction lain yang mengandalkan rangkaian bangunan ekonomi biasa, Nagash membangun kekuatannya melalui Necropolis. Kalian bisa mengubah settlement besar menjadi Necropolis yang menghasilkan necromantic energy dari provinsi di sekitarnya.
Semakin jauh kalian mengembangkan pengaruh Nagash, semakin besar pula kemampuan untuk mengumpulkan energi yang dibutuhkan demi memperkuat kekuasaannya. Bahkan, melalui ritual tertentu, wilayah yang sebelumnya dipenuhi kehidupan bisa berubah menjadi Wasteland yang tandus dan tercemar oleh kekuatan undead.
Menurut gw, perubahan ini berhasil menggambarkan betapa mengerikannya kekuatan Nagash. Kalian nggak cuma memperluas wilayah kekuasaan, tetapi juga mengubah dunia menjadi tempat yang mencerminkan kekuatan karakter yang dimainkan.
Selain mengembangkan Black Pyramid, salah satu tujuan utama campaign Nagash adalah mengumpulkan para Mortarch, yaitu para pemimpin undead legendaris yang berada di bawah kekuasaannya.
Ketika kalian menundukkan karakter penting seperti Arkhan the Black, Neferata, Luthor Harkon, atau para Von Carstein, kalian nggak cuma mendapatkan mereka sebagai tambahan karakter. Kalian juga bisa mengambil alih wilayah dan pasukan yang sudah mereka miliki.
Artinya, ketika campaign mulai berkembang dan kekuatan necromancy Nagash semakin besar, ekspansi wilayah bisa berlangsung dengan sangat cepat.
Dari sisi magic, Nagash punya akses ke Lore of Undeath, ditambah lore tambahan yang bisa dibuka dengan menemukan Books of Nagash. Kombinasi ini membuatnya sangat fleksibel dalam pertempuran.
Nagash bisa menghancurkan formasi musuh menggunakan spell dengan area serangan luas seperti Soulstealer, memanggil berbagai unit untuk membantu pertempuran, sekaligus mempertahankan pasukannya melalui resurrection magic.
Di late game, kalau kalian berhasil mengembangkan Nagash dan mengoptimalkan kemampuan magic-nya, dia bahkan bisa mendekati level one-man doomstack. Bayangkan satu karakter yang mampu memberikan damage besar, memanggil bantuan, dan mempertahankan pasukan undead dalam pertempuran.
Namun, meskipun Nagash bisa menjadi sangat kuat, campaign-nya ternyata nggak semudah yang terlihat.
Nagash termasuk faction yang sangat bergantung pada momentum. Di awal permainan, ekonomi kalian justru bisa terasa sangat menyiksa. Settlement dasar Nagash hanya menghasilkan sekitar 100 gold dari pendapatan reguler, sehingga kalian harus benar-benar memperhatikan pengeluaran dan perkembangan wilayah.
Berbeda dari faction lain yang bisa menunggu beberapa turn untuk membuka teknologi tingkat lanjut, Nagash menggunakan sistem Sigils yang diperoleh melalui ekspansi provinsi untuk membuka teknologi. Jadi, perkembangan kekuatannya sangat berkaitan dengan seberapa efektif kalian memperluas wilayah.
Untungnya, Creative Assembly sudah melakukan beberapa penyesuaian untuk membantu mengatasi masalah ekonominya.
Black Pyramid sekarang memiliki pengurangan upkeep sebesar 40% pada salah satu node awal. Ada juga pengurangan upkeep sebesar 10% untuk bagian Tomb Kings, Vampire Coast, dan Vampire Counts di upgrade tree Black Pyramid, yang berlaku untuk unit dengan tipe Lord terkait maupun unit yang dipimpin Nagash sendiri.
Selain itu, pendapatan dari post-battle loot juga ditingkatkan pada tingkat kesulitan campaign yang lebih rendah. Easy mendapatkan tambahan 20%, Normal 10%, dan Hard 5%, sementara Very Hard dan Legendary tidak mengalami perubahan.
Penyesuaian ini cukup membantu mengurangi tekanan ekonomi di awal permainan, terutama ketika kalian mulai membangun pasukan dari berbagai roster undead.
Meski begitu, Nagash tetap punya tantangan yang menarik. Ada banyak mekanik yang perlu kalian kelola secara bersamaan, mulai dari ekonomi, ekspansi wilayah, Sigils, Black Pyramid, sampai komposisi pasukan dari tiga race undead yang berbeda.
Kalau kalian sudah memahami seluruh sistem ini, Nagash bisa menjadi faction yang sangat mudah dieksploitasi oleh pemain berpengalaman. Kombinasi roster yang luas, magic yang kuat, dan kemampuan mengambil alih wilayah serta pasukan karakter lain membuat potensi snowball-nya benar-benar gila.
Nagash pada dasarnya adalah faction endgame snowball. Empat puluh turn pertama bisa terasa sangat menyiksa karena kalian harus berjuang menjaga ekonomi sambil membangun fondasi kekuatan. Namun, kalau berhasil melewati fase tersebut, kalian akan mendapatkan salah satu pengalaman campaign paling dahsyat di Total War: Warhammer III, dengan pasukan undead yang punya fleksibilitas luar biasa dan seorang pemimpin yang kekuatannya mendekati level dewa.
Di awal permainan, kalian harus berjuang membangun kembali kekuatan sang Supreme Lord of Undeath. Namun, ketika semuanya sudah berkembang, kalian bisa mengubah seluruh dunia menjadi ladang pembantaian bagi pasukan undead milik Nagash.
Dan ketika Nagash akhirnya mencapai potensi penuhnya, rasanya benar-benar seperti kalian sedang memainkan salah satu karakter paling broken di Total War: Warhammer III.
Such is the power of Nagash.
Endgame yang Lebih Mengancam
Secara keseluruhan, Creative Assembly nggak cuma omong doang. Menurut gw, Lords of the End Times adalah salah satu DLC terbaik sekaligus terbesar yang pernah mereka rilis untuk Total War: Warhammer III.
Sayangnya, masih ada beberapa hal yang perlu diperbaiki, terutama dari sisi multiplayer dan berbagai bug yang bisa mengganggu pengalaman bermain. Memang, komunitas sudah menyediakan sejumlah mod untuk memperbaiki masalah di campaign. Namun, seperti yang pernah gw bahas dalam review base game Total War: Warhammer III sebelumnya, terkadang update yang dirilis Creative Assembly justru bikin mod-mod tersebut rusak lagi.
Gw juga paham kalau Creative Assembly sekarang punya banyak proyek besar yang harus dikerjakan, termasuk Total War: Warhammer 40,000, salah satu IP paling ambisius mereka yang tentunya menjadi mimpi basah bagi para fans Warhammer 40K. Namun, terlepas dari berbagai masalah tersebut, Lords of the End Times tetap memberikan banyak alasan untuk kembali memainkan Total War: Warhammer III.
Selain menghadirkan campaign unik untuk setiap Legendary Lord baru, DLC ini juga membuat pengalaman endgame di Immortal Empires terasa jauh lebih imersif melalui tiga endgame scenarios baru.
Pertama, ada invasi Chaos yang dipimpin oleh Archaon. Kali ini, Archaon benar-benar bisa memimpin invasi Chaos dalam skala besar, memberikan ancaman yang sesuai dengan reputasinya sebagai salah satu tokoh paling berbahaya di dunia Warhammer.
Kedua, ada skenario Nagash yang memaksa kalian berpacu dengan waktu. Nagash mulai menjalankan ritualnya dan menggerakkan Black Pyramid menuju Nagashizzar. Kalau kalian gagal menghentikannya, seluruh dunia akan berubah menjadi wilayah yang dikuasai oleh Undeath.
Untuk menghentikan ritual tersebut, kalian harus mengalahkan para Mortarch dan pasukan undead yang menghalangi jalan sebelum akhirnya menghadapi Nagash dalam pertempuran terakhir.
Terakhir, ada skenario Skaven yang menghadirkan Vermintide dalam skala penuh.
Kali ini, Skaven nggak lagi menyembunyikan settlement mereka. Mereka mulai mengirimkan gelombang pasukan tanpa henti untuk menguasai permukaan dunia. Tugas kalian adalah bertahan dari invasi para manusia tikus ini sekaligus mengumpulkan informasi mengenai rencana mereka sebelum semuanya terlambat.
Menurut gw, tambahan seperti inilah yang membuat Lords of the End Times terasa begitu besar pengaruhnya terhadap Total War: Warhammer III. Ancaman yang selama ini hanya menjadi bagian dari lore Warhammer kini bisa menjadi krisis nyata yang harus kalian hadapi sendiri di campaign.
Verdict: 8/10
Pada akhirnya, gw memberikan Lords of the End Times rating 8/10.
Meskipun masih ada masalah teknis dan beberapa aspek yang membutuhkan perbaikan, DLC ini berhasil menghadirkan Legendary Lords dengan mekanik yang berbeda-beda, memperluas pilihan strategi, dan membuat fase endgame terasa jauh lebih menegangkan.
Buat gw, Lords of the End Times adalah alasan yang sangat kuat untuk kembali ke dunia Total War: Warhammer III, terutama kalau kalian sudah lama nggak memainkan Immortal Empires. Setiap Legendary Lord menawarkan pendekatan campaign yang berbeda, sementara tiga endgame scenarios baru memberikan ancaman yang bisa mengubah jalannya permainan secara drastis.
DLC ini memang belum sempurna, terutama karena masalah multiplayer dan bug yang masih membutuhkan perhatian Creative Assembly. Namun, dari sisi konten dan variasi gameplay, ekspansi ini berhasil memberikan pengalaman yang terasa besar dan ambisius.
Karena sekarang, bukan cuma kalian yang berusaha menaklukkan dunia.
Dunia itu sendiri sedang berusaha bertahan hidup dari kalian.
Bagaimana menurut kalian? Jangan lupa ikuti DirektoriGim untuk ulasan dan pembahasan mendalam lainnya seputar industri video game. Kalian juga bisa mendukung jurnalisme independen kami dengan bergabung sebagai member DirektoriGim, mulai dari Rp10.000 saja.
#totalwar #totalwarwarhammer3
























